RENCANA
Pemkot Mataram menerbitkan Perwal (Peraturan Walikota) tentang lahan abadi
terus mengundang komentar dari kalangan politisi lingkar selatan. Anggota
Komisi II DPRD Kota Mataram, I Wayan Wardana, SH., berpendapat butuh kajian
yang mendalam dari berbagai sisi sebelum mengolkan Perwal tersebut.
Banyak
hal yang harus disiapkan Pemkot Mataram ketika akan menertibkan Perwal
tersebut. Sementara saat ini saja, lanjutnya, keberpihakan pemerintah terhadap
petani masih sangat minim. Belum lagi godaan dari investor. ‘’Di Pagutan saja,
tahun 2012 harga tanah sudah Rp 6 juta per meter persegi,’’ ujar Wayan Wardana
kepada Suara NTB di DPRD Kota
Mataram. Dengan iming-iming seperti itu dari investor, tentu harus ada
kompensasi yang memadai ketika sawah-sawah yang ada di Mataram telah ditetapkan
menjadi lahan abadi.
Untuk
mewujudkan keberadaan lahan abadi di Mataram, lanjut Wayan Wardana, Pemkot
Mataram harus bisa menjamin kesejahteraan petani. Mulai dari penyediaan bibit,
pupuk, obat-obatan, membebaskan PBB berikut menjamin ketersediaan saluran
irigasi terhubung ke semua sawah yang notabene lahan abadi.
Karena
selama ini, demikian politisi PDI Perjuangan ini, petani kerap kesulitan
mencari pupuk. ‘’Kadang-kadang, belum panen, mereka (petani, red) sudah pinjam
uang,’’ cetusnya. Wayan Wardana mengatakan, pihaknya tidak menampik kalau
Mataram memang butuh lahan abadi supaya tidak terlalu bergantung dengan daerah
lain dalam hal pemenuhan kebutuhan beras.
Menurut
Wayan Wardana, pembahasan draf Perwal lahan abadi, jangan hanya di internal
Pemkot Mataram dan kalangan akademisi saja. Justru, petani yang notabene
sawahnya bakal ditetapkan menjadi lahan abadi, belum pernah disentuh. ‘’Coba
mereka diajak dialog,’’ sarannya. Karena bagaimanapun, harus jelas juga batasan
lahan abadi itu. ‘’Sampai kapan sawah itu menjadi lahan abadi,’’ tambahnya.
Sebab
tidak mungkin, para pemilik sawah akan menjadi petani seumur hidup, demikian
pula dengan keluarganya. Untuk itu, dalam kurun waktu tertentu yang menjadi
kesepakatan Pemkot dengan pemilik lahan, harus ada garansi. ‘’Dibuat petani
senang bertani dan mendapat keuntungan dari bertani,’’ tandasnya. (fit)
Komentar