PROGRAM
Puskesmas Gratis yang luncurkan Pemkot Mataram beberapa waktu lalu, nampaknya
masih setengah hati. Bagaimana tidak, puskesmas sebagai salah satu ujung tobak
pelayanan kesehatan kepada masyarakat masih ada yang belum memiliki dokter.
Dari 10 puskesmas yang ada di Kota Mataram, dua di antaranya, yakni Puskesmas
Selaparang dan Puskesmas Pagesangan, ternyata tidak memiliki dokter.
Kenyataan
ini cukup ironis di tengah upaya Pemkot Mataram ingin meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Semestinya, peluncuran program puskesmas gratis dibarengi dengan
ketersediaan SDM baik dari segi kuantitas terlebih kualitas. Karena, sejauh ini
puskesmas menjadi salah satu sarana pelayanan kesehatan favorit selain rumah
sakit.
Masyarakat
lebih banyak datang ke puskesmas ketimbang ke rumah sakit dan fasilitas
kesehatan lainnya. Semestinya kondisi ini segera disikapi oleh Pemkot Mataram
supaya pelayanan kepada masyarakat di puskesmas tidak terganggu. Salah satu
solusinya, untuk setiap formasi CPNS yang didapatkan Pemkot Mataram harus
memprioritaskan tenaga medis, terutama dokter untuk mengisi kekosongan di dua
puskesmas tersebut.
Bertambahnya
jumlah penduduk Kota Mataram, membuat Pemkot Mataram dihadapkan dengan
persoalan kekurangan tenaga medis, baik dokter maupun perawat. Langkah Pemkot
Mataram menyikapi kekosongan dokter di Puskesmas Selaparang maupun Pagesangan dengan
cara membuat jadwal piket bergilir bagi dokter umum memang cukup baik. Namun
jika hal itu dilakukan dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin akan
mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Karenanya,
untuk formasi CPNS yang didapatkan Pemkot Mataram 59 formasi, 21 diantanya
disiapkan untuk tenaga medis. Meskipun pada implementasinya nanti Pemkot
Mataram belum bisa lepas dari persoalan kekurangan tenaga medis. Sebab, seperti
kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. Usman Hadi, tenaga medis seperti
dokter umum dan dokter gigi idealnya di masing – masing puskesmas harus ada
tiga dokter umum dan satu dokter gigi. Jumlah tersebut sangat penting melihat
tingkat kunjungan rawat inap di puskesmas sekitar 100 kamar per hari.
Saat
ini Mataram hanya memiliki 26 dokter, itupun empat orang harus melanjutkan
pendidikan. Kalaupun jumlah dokter hanya 26 orang dibandingkan jumlah penduduk
Kota Mataram mencapai 430 ribu jiwa. Artinya, satu dokter umum akan melayani
5.000 jiwa per harinya. Kondisi ini tentu akan menghambat pelayanan terhadap
masyarakat.
Untuk
itu, kita mengharapkan perhatian penuh Pemkot Mataram terhadap keberadaan tenaga
kesehatan, khususnya tenaga dokter di puskesmas yang belum memiliki dokter.
Jangan sampai, tidak adanya dokter atau tenaga kesehatan yang memadai
membuat program yang sudah dibuat
sebelumnya menjadi gagal. Terlebih melihat jumlah penduduk di Kota Mataram yang
cukup besar dan belum sebanding dengan jumlah tenaga dokter yang ada. (*)
Komentar