Perlu Pengawasan Bersama



TINGGINYA angka pengidap IMS (Infeksi Menular Seksual), membuat kalangan Komisi IV DPRD Kota Mataram, prihatin. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram, Herman, AMd., kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Selasa (23/9) mengatakan, derasnya arus globalisasi membutuhkan peran semua pihak.

Apalagi data yang diungkap KPA (Komisi Penanggulangan Aids) Kota Mataram yang menyebutkan dari 1.560 pengidap IMS, tiga diantaranya adalah remaja berusia 14 tahun. Menyikapi persoalan ini, menurut Herman, peran serta guru, orang tua dan stake holders harus dimaksimalkan. ‘’Sudah ada lembaga yang menangani persoalan ini. Baik KPA, BP2KB (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana) serta Dinas Kesehatan, tinggal dimaksimalkan saja,’’ tuturnya.

Politisi Gerindra ini mengaku setuju dengan langkah-langkah yang ditempuh KPA Kota Mataram dengan menggencarkan sosialisasi kesehatan reproduksi dan bahayanya IMS berikut HIV/AIDS ke sekolah-sekolah. Menurut Herman, tindakan preventif memang sangat diperlukan untuk mencegah meluasnya kasus IMS.

IMS yang telah merambah kalangan remaja, kata Herman, tidak terlepas dari pola pergaulan remaja zaman sekarang yang terkesan begitu bebas. ‘’Pergaulan remaja sekarang sangat rentan dengan free sex,’’ sebutnya. Komisi yang membidangi masalah kesehatan ini, lanjut Herman, memberi perhatian khusus terhadap persoalan tersebut. Terlebih, persoalan itu juga menyangkut masa depan generasi muda.

Untuk itu, semua pihak harus mengambil peran dalam mengawal tumbuhnya generasi muda yang berkualitas. Pihak sekolah dan orang tua disarankan berbagi tugas. ‘’Jam 7 sampai jam 2, siswa bisa diawasi oleh pihak sekolah,’’ ujarnya. Selepas jam 2, orang tua hendaknya melakukan peran yang sama dalam pengawasan anak-anak mereka. Karena bagaimanapun, orang tua merupakan pihak yang paling dekat dengan siswa bersangkutan.

Selain pengawasan dari sekolah dan orang tua, Herman juga menyarankan agar pihak sekolah memberikan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat siswa. Sebab, selama ini, tidak sedikit siswa SMP ataupun SMA yang lebih suka menghabiskan waktunya untuk hangout bersama teman-temannya ketimbang menjalani kegiatan yang lebih menambah wawasan. ‘’Makanya, ekstrakurikuler ini harus dinamis dan mengikuti perkembangan zaman,’’ tandasnya. (fit)

Komentar