Walikota Gagas Akses Terpadu dari BIL hingga Rinjani



Mataram (Suara NTB)
Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh menggagas pembangunan akses jalan terpadu dari BIL tembus ke kabupaten kota di Pulau Lombok dan berakhir di Rinjani, melalui Kota Mataram. Pembangunan akses terpadu ini menjadi obsesi Walikota Mataram yang hingga kini belum terealisasi. ‘’Akan sangat bagus kalau bisa kita bangun BIL-pesisir pantai (Mataram)-KLU-Rinjani,’’ terangnya baru-baru ini.

Rencananya, menurut Walikota, Pemkot Mataram akan membangun jalan di sepanjang pesisir pantai yang akan ditembuskan ke akses by pass BIL. Jalan yang melalui pesisir pantai akan dibuat dengan pola fly over atau jalan layang. Namun Walikota menegaskan bahwa fly over yang akan dibangun itu tidak seperti yang ada di kota-kota besar yang bakal menelan anggaran yang sangat besar.

Walikota berharap, dengan pembangunan jalan melalui pesisir pantai hingga tembus ke perbatasan Kota Mataram dengan Kabupaten Lombok Barat di sebelah utara akan dilanjutkan oleh kabupaten tetangga. Sehingga diharapkan akses jalan ini akan berujung di Rinjani. Pembangunan jalan diharapkan membuka jalan bagi promosi Gunung Rinjani. Dengan adanya akses jalan, maka target angka kunjungan wisatawan tidak lagi sulit dicapai.

Secara terpisah, anggota Komisi III DPRD Kota Mataram, Zaitun, SH., kepada Suara NTB di Pendopo Walikota Mataram, Minggu (31/8) mengapresiasi keinginan Walikota terkait pembangunan akses jalan terpadu. ‘’Sebenarnya bagus sih, asal untuk masyarakat yang tempat tinggalnya terkena dampak pembangunan itu, harus disediakan tempat tinggal yang jauh lebih baik,’’ ucapnya.

Ia sepakat dengan Walikota, jika pembangunan akses jalan terpadu dapat mempercepat kemajuan Kota Mataram bahkan Provinsi NTB, terutama melalui sektor pariwisata. Sehingga bisa bersaing dengan kota wisata yang lain. Untuk mewujudkan obsesi membangun jalan terpadu, Pemkot Mataram dituntut lebih kreatif. ‘’Kalau dengan APBD Mataram ya sepertinya mimpi. Cuma, kepala daerah mungkin bisa mencari investor yang pasti,’’ tegasnya.

Jangan sampai Pemkot Mataram bekerjasama dengan investor seperti yang dulu-dulu. ‘’Dulukan bilangnya sudah pasti, tapi ternyata tidak ada, jangan sampai pemerintah tertipu lagi,’’ demikian Zaitun. Karena investor membuat kontrak dengan pemerintah hanya untuk mendapat bantuan dari pemerintah pusat. ‘’Tapi setelah dapat, ternyata mereka alihkan ke provinsi lain,’’ imbuhnya. (fit)

Komentar