Jangan Asal Proyek



PEMBANGUNAN di Kota Mataram, tidak dipungkiri begitu pesat. Namun dalam progres pembangunan fisik yang ditunjukan Pemkot Mataram, ada sisi yang kurang menggembirakan. Ada pembangunan yang sangat diinginkan, tapi di sisi lain ada juga proyek yang telah rampung pembangunannya, sampai saat ini tidak kunjung dimanfaatkan.

Sebut saja pembangunan MSB (Mataram Sunset Beach) yang dilakukan pihak ketiga dalam hal ini PT. MMS (Masmurni Sejahtera). Tujuh bulan pasca ground breaking yang dilakukan Walikota Mataram, hingga kini belum ada kemajuan dari pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan di tempat itu. Padahal, tidak hanya Pemkot Mataram, masyarakat sekitar juga sangat berharap MSB segera rampung. Tetapi kenyataannya, pembangunan oleh anak perusahaan Helindo Grup itu, mandek. Alasan merubah desain karena kontur alam di sana, seperti kata Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, I Gede Wiska, SPt., bisa jadi hanya alasan saja.

Sayangnya, Pemkot Mataram sepertinya masih percaya kalau pembangunan diatas lahan Pemkot Mataram seluas 3 hektar itu, masih akan berlanjut. Jika MSB didambakan segera rampung untuk menjawab keraguan masyarakat di sisi lain, ada proyek yang telah rampung beberapa tahun lalu, hingga kini, operasionalnya mangkrak. Proyek tersebut adalah MWP (Mataram Water Park). MWP yang telah dibangun mahal-mahal dari APBD Kota Mataram, justru mubazir.

Betapa tidak, sejak rampung, MWP belum juga dikelola. Pemkot Mataram masih saja berkutat pada alasan bahwa mereka sedang mencari investor. Tidak kunjung ada investor yang berminat mengelola MWP tentu saja ada sebabnya. Meski Pemkot Mataram kerap mengklaim bahwa mereka tidak mau investor yang asal-asalan, di sisi lain, investor pasti berhitung untuk berinvestasi di MWP. Proyek MSB yang tidak jelas juntrungannya ditambah dengan MWP yang mangkrak menggambarkan kalau Pemkot Mataram tidak punya program yang jelas terhadap pembangunan itu.

MSB misalnya, jangan hanya tergiur dengan janji akan diberikan royalti Rp 250 juta per tahun, Pemkot Mataram buru-buru menandatangani MoU dengan MMS. Wajar kalau kalangan legislatif menganggap Pemkot Mataram kurang selektif bahkan terlampu cepat percaya. Padahal sebelumya Pemkot Mataram sudah punya pengalaman pahit ditipu investor berlabel Pt. Argo Lawu Mercu Buana yang akan membangun Ampenan Harbour.

Begitu pula dengan pembangunan MWp. Dari awal pembangunan MWP harusnya sudah jelas targetnya. Tidak seperti sekarang, sudah dibangun, malah jadi sarang nyamuk. Kedepan pembangunan-pembangunan di Mataram. Terlebih yang bersumber dari APBD, harus betul-betul dikaji untung ruginya. Jangan sampai pembangunan hanya berorientasi proyek, sehingga ujung-ujungnya bermasalah. Pembangunan idealnya memang dibutuhkan masyarakat, bukan karena ada kepentingan dari oknum tertentu. (*)

Komentar