DIFUNGSIKANNYA kembali terminal Kebon Roek oleh Dishubkominfo
Kota Mataram sejak sepekan terakhir, mendapat sorotan dari kalangan legislatif.
Disatu sisi, langkah tersebut mendapat apresiasi yang cukup baik. Namun di sisi
lain Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Muhtar, SH., memberi sejumlah catatan atas
kondisi Terminal Kebon Roek yang kembali semrawut.
Kepada Suara NTB
via ponsel, Kamis (16/10), Muhtar
mengatakan, operasional Terminal Kebon Roek terkesan dipaksakan. Sehingga,
wajar kalau tertibnya hanya sehari dua hari. Menurut politisi Gerindra ini,
perlu ada terminal yang lebih layak ketimbang Terminal Kebon Roek. ‘’Terminal yang
ada sekarang ini adalah bagian dari pasar,’’ ujarnya.
Muhtar menilai Terminal Kebon Roek belum layak disebut
terminal. ‘’Itu terminal yang dipaksakan,’’ katanya. Perlu ada kajian terlebih
dahulu ketika akan memfungsikan lahan itu sebagai terminal. Karena terminal
idealnya membutuhkan lahan yang luas. Sehingga bisa menata berbagai angkutan
umum yang kerap mengangkut dan menurunkan penumpang di sembarang tempat.
‘’Makanya perlu ada penekanan di sana (Kebon Roek, red),’’
cetusnya. Karena berbicara Kebon Roek, lanjut Muhtar, tidak sekadar soal
terminal yang kembali semrawut. Lebih dari itu, poisisi Pasar Kebon Roek sejatinya
sangat strategis dan membutuhkan penataan yang tidak sekadarnya.
Dikatakan Muhtar, Kebon Roek tidak hanya membutuhkan
penataan tapi juga intervensi kebersihan pasar tradisional itu. Karena, pihak Pemkot
Mataram kerap mengklaim kondisi pasar di Mataram relatif bagus. ‘’Tapi kenyataannya
seperti Kebon Roek ini,’’ sebutnya. Kondisi ini membutuhkan adanya kerjasama
yang baik antar SKPD terkait. Seperti Dishub, Diskoperindag, Dinas Kebersihan
dan Dinas Budpar Kota Mataram.
Dinas Budpar perlu dilibatkan dalam penataan Pasar
Kebon Roek, karena Pasar Kebon Roek itu merupakan pintu masuk ke Kota Mataram dari
arah Senggigi. ‘’Kebon Roek kan
satu-satunya pasar yang dilewati setelah dari Senggigi,’’ demikian Muhtar.
Kondisi Kebon Roek yang tidak hanya semrawut tapi juga bau, harus menjadi
perhatian serius.
‘’Jangan saling lempar tanggung jawab,’’ pintanya.
Karena bagaimanapin Kebon Roek merupakan gerbang wisata. Jika ditata dengan
baik, tidak menutup kemungkinan ke depan Kebon Roek bisa menjadi pusat kuliner.
(fit)
Komentar