DINAIKKANNYA
target PAD untuk tahun 2015 dianggap sesuatu yang mutlak harus dilakukan.
Banyak potensi yang mendukung untuk itu. ‘’Kalau yang saya lihat sih yang paling besar adalah retribusi
parkir,’’ ujar Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram, I Nyoman Yogantara
menjawab Suara NTB di ruang kerjanya,
Selasa (24/11).
Meski
retribusi parkir tepi jalan umum dan retribusi pasar merupakan dua item
penyumbang PAD yang paling besar, namun Dewan tetap mendorong seluruh potensi
yang ada agar dikelola maksimal. Terkait ketakutan Dishubkominfo kalau target
retribusi parkir tepi jalan umum dinaikkan maka akan kesulitan mencapai target,
menurutnya, bukan alasan yang pas. Oleh karena itu, lanjut Yoga, demikian ia
biasa disapa, perlu diambil langkah stategis menyikapi hal ini.
Seperti
yang sering diwacanakan Dewan selama ini, pembentukan perusahaan daerah parkir
dan retribusi pasar dinilai sebagai solusi yang pas untuk mengatasi
amburadulnya pengelolaan retribusi parkir tepi jalan umum dan retribusi pasar
tradisional. Dengan pembentukan PD parkir ataupun PD pasar, politisi PDI
Perjuangan ini yakin hasil yang didapat akan terukur. ‘’Karena kan pasti akan termanage dengan baik, tidak seperti sekarang ini,’’ cetusnya.
Minimnya
target berikut capaian retribusi parkir tepi jalan umum dan retribusi pasar,
lanjut Yoga, tidak terlepas dari terbangunnya sistem pengelolaan yang yang
tidak tepat. Ia mencontohkan pengelolaan parkir di Kota Yogyakarta Rp 9 miliar.
‘’Yang dikembalikan setelah dipotong penggajian, dia terima itu bersihnya Rp 5
miliar,’’ demikian Yoga.
Itupun,
sambung Yoga, dengan radius setengah dari luas Kota Mataram. Fenomena gagalnya
sektor parkir mencapai target sudah terjadi dari tahun ke tahun. Ironisnya,
ketika Dewan mengusulkan solusi untuk itu, pihak eksekutif cenderung banyak
alasan. Ia mengapresiasi rencana Sekda Kota Mataram, Ir. HL. Makmur Said, MM.,
untuk membedah masalah parkir tepi jalan umum di Mataram. karena, parkir tepi
jalan umum di Mataram diduga dikelola dengan sistem multi level. (fit)
Komentar