Harus Ada Gerakan Moral Efisiensi Anggaran



DORONGAN DPRD Kota Mataram kepada Pemkot Mataram agar melakukan rasionalisasi belanja pegawai, nampaknya memang cukup beralasan. Pasalnya, honor kepanitiaan sejumlah kegiatan di lingkup Pemkot Mataram, angkanya cukup signifikan. Misalnya panitia lelang pengadaan barang dan jasa. Begitu juga rapat-rapat selalu dilengkapi dengan honor.

Penganggaran honor kepanitiaan atau honor rapat banyak mendapat sorotan karena hal itu dianggap sebagai bentuk pemborosan atau inefisiensi. Kalau memperhatikan waktu rapat atau pelaksanaan kegiatan yang disiapkan honor itu, dapat dikatakan penggarannya hanya untuk menambah pundi-pundi keuangan PNS. Pasalnya, meskipun rapat, toh rapat itu diselenggarakan dalam rentang jam kerja, pukul 08.00 – 14.00 Wita.

Wajar kalau Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, HM. Zaini beranggapan honor kepanitiaan perlu disesuaikan, bahkan bila perlu dihapuskan. Sebab, Dewanpun misalnya dalam rapat kerja tidak dibekali dengan honor. Meski tidak menjadi tolak ukur, tetapi setidaknya cara-cara yang dilakukan Dewan dengan menggelar rapat tanpa honor bisa ditiru jajaran eksekutif.

Meskipun mungkin ada payung hukum yang mendasari pemberian honor kepanitiaan, bisa saja para PNS ‘’mengikhlaskan’’ honornya untuk kepentingan lain. Pasalnya, masih banyak program yang menyentuh kepentingan masyarakat, membutuhkan anggaran yang tidak kecil. Sehingga, setiap kali rapat para PNS tidak mengambil honor itu. Tetapi persoalannya relakah para PNS tidak menerima honor rapat atau kegiatan lainnya. Ini tentu kembali pada pribadi mereka masing-masing.

Tidak hanya rasionalisasi honor kepanitiaan, anggaran lainnya juga perlu mendapat perhatian serius agar tidak ada anggaran yang mubazir atau bahkan mengada-ada. Untuk itu, jajaran Pemkot Mataram diharapkan punya inovasi bagaimana mendesain anggaran yang efisien namun tepat guna. Namun demikian, penghematan anggaran jangan hanya dilakukan oleh eksekutif saja.

Dewan selaku pihak yang mengawasi anggaran dan jalannya program eksekutif  juga harus melakukan yang sama. Tidak adil juga kalau eksekutif diminta berhemat, sementara Dewan menggunakan anggaran sesukanya. Kalau dicermati seksama banyak item yang bisa dihemat. Misalnya pengadaan snack, penggunakan pendingin ruangan, pengadaan kendaraan dinas dan pengadaan alat tulis kantor.

Karena selama ini, nyaris tidak ada rapat yang tidak ada snack. Padahal, kadang rapat-rapat yang digelar durasinya tidak terlalu lama. Demikian pula kendaraan dinas, tidak perlu membeli yang mahal. Toh fungsinya sama dengan kendaraan yang harganya standar atau terjangkau. Pemerintah juga tidak perlu buru-buru melakukan lelang kendaraan dinas. Dengan demikian hajat efisiensi anggaran bisa terwujud dan implikasinya diharapkan kesejahteraan masyarakat meningkat. (*)

Komentar