NAIKNYA
harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dinilai akan membuat petani semakin tersiksa. Pasalnya,
kata Sekretaris Partai Demokrat DPRD Kota Mataram, Ehlas, SH., sebelum kenaikan
harga BBM pun, menjadi petani tak lagi bisa mendapat keuntungan yang
menggiurkan. ‘’Bibit langka, pupuk juga langka,’’ akunya.
Yang
jelas, menurut Ehlas, biaya produksi yang dikeluarkan para petani, tidak
sebanding dengan hasil yang didapat setelah panen. Ia menggambarkan, satu
hektar lahan bisa menghasilkan sekitar 5 ton gabah. Namun itu tidak semua bisa
dibawa pulang oleh petani. ‘’Belum membayar biaya membajak 4 kwintal, zakat 4
kwintal, biaya tanam Rp 800 ribu, bibit Rp 400 ribu, ongkos cabut Rp 400 ribu
dan pupuk Rp 800 ribu,’’ terangnya.
Itupun,
lanjutnya, belum termasuk ongkos buruh pencabut rumput Rp 250 ribu per hari dan
biasanya untuk luas sawah satu hektar akan memakan waktu sekitar lima hari. Kondisi
ini diperparah dengan kenaikan harga BBM. Sebab, saat ini, petani tak lagi
membajak menggunakan kerbau melainkan menggunakan traktor berbahan bakar
premium. Demikian pula saat menggiling gabah menjadi beras, menggunakan mesin
yang juga berbahan bakar premium.
Ehlas
menuturkan, selama ini meskipun ada bantuan dari pemerintah untuk petani, namun
jumlahnya masih jauh dari harapan. Jenis bantuan dari pemerintah untuk petani
antara lain bibit dan pupuk. Namun petani juga dalam proses penanaman hingga
panen, banyak menemui kendala. Seperti serangan hama tikus, keong mas, musim
hujan, hingga aliran air ke sawah-sawah yang tersumbat.
Apalagi
sekarang, aliran air ke sawah-sawah banyak yang beralih fungsi menjadi tong
sampah. Sehingga terjadi penyempitan saluran. ‘’Seharusnya jalur kontrol air
ini jangan ditutup,’’ pintanya. Ia menyayangkan sikap Dinas PU Kota Mataram
yang terkesan tidak ada upaya menangani sumbatan saluran kontrol air ke
sawah-sawah. Kalaupun alat berat tidak bisa menjangkau tempat tersebut, Dinas
PU seharusnya bisa mengerahkan THL untuk membenahi saluran yang menjadi tumpuan
para petani. ‘’Itu kan namanya ndak serius,’’ tandasnya. (fit)
Komentar