Provinsi dan Kabupaten/Kota Harus Rumuskan Langkah Solutif



Mataram (Suara NTB) –
Kenaikan BBM jenis solar dan premium berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat. Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH., tidak menampik kekhawatiran Walikota akan bertambahnya angka kemiskinan di Mataram, akan benar-benar terjadi jika tidak segera diambil langkah solutif.

Sebab, hadirnya kartu sakti (Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Keluarga Sejahtera) yang dikeluarkan pemerintah pusat diyakini belum mampu menjawab persoalan yang timbul akibat naiknya harga BBM masing-masing Rp 2.000 untuk jenis premium dan solar. Karena kartu sakti itu sifatnya konsumtif, tidak produkti. Sementara masalah yang dihadapi masyarakat berkaitan dengan produktivitas. ‘’Tiga kartu ini tidak bisa menjadi solusi terhadap hal-hal yang bersifat non konsumtif,’’ tegasnya.

Kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Rabu (19/11) Didi Sumardi mengatakan, semestinya Pemprov NTB mengajak kabupaten/kota duduk bersama merumuskan langkah-langkah solutif.

Menurut Didi Sumardi, sudah saatnya pemerintah pusat mengkombinasikan kompensasi kenaikan harga BBM yang tidak berdampak pada beberapa sektor yang sifatnya publik. Seperti sektor transportasi, usaha ekonomi kecil dengan berbagai varian. ‘’Untuk itu, kita di daerah perlu mengeluarkan rekomendasi kepada presiden untuk melindungi sektor-sektor yang kami maksud,’’ terangnya.

Dengan begitu, ancaman dampak kenaikan BBM tidak akan terlalu dahsyat terhadap meningkatnya angka kemiskinan. Karena bagaimanapun, kenaikan BBM akan berdampak kait-mengait untuk semua sektor. Ia mencontohkan sektor angkutan. Tidak hanya dihadapkan pada kenaikan harga BBM tapi juga harga onderdil maupun ongkos angkutan. Didi Sumardi berpandangan, ancaman meningkatnya angka kemiskinan sebagai dampak kenaikan harga BBM, ada baiknya Gubernur bersama Bupati/Walikota duduk bersama untuk membahas persoalan ini.

‘’Kami berharap, secara khusus pak wali (Walikota Mataram, red) yang menginisiasi ini,’’ pintanya. Walikota diharapkan segera bertemu dengan Gubernur untuk selanjutnya mengajak daerah-daerah lain untuk berbicara dalam skup ke-NTB-an terkait masalah ini. Didi Sumardi mengaku akan mencari waktu untuk bertemu Walikota dan juga pimpinan DPRD Provinsi NTB akan berbicara di level lembaga legislatif. (fit)

Komentar