Ragukan Data PU



MINIMNYA anggaran yang disiapkan Pemkot Mataram untuk pembangunan drainase yakni Rp 2,4 miliar di tahun 2015 mendatang nampaknya memang harus dimaklumi. Mengingat, bidang-bidang lainnya juga masih membutuhkan anggaran. Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Syamsul Bahri, SH., menilai kecilnya anggaran untuk drainase menunjukan pembangunan drainase belum menjadi prioritas eksekutif.

Meskipun di sisi lain, Pemkot Mataram kerap menyerukan bagaimana supaya kota ini bebas banjir. ‘’Memang belum prioritas, tapi eksekutif memang harus pandai-pandai membagi anggaran,’’ ujarnya menjawab Suara NTB di ruang kerjanya, Selasa (11/11). Dengan anggaran yang terbatas itupun, Dinas PU Kota Mataram sebagai SKPD teknis harus mempunyai program yang jelas terkait drainase.

Selain pembangunan drainase, normalisasi justru dianggap sebagai program yang harus segera dilakukan PU. ‘’Kalau dilihat dari anggarannya, normalisasi harus diutamakan,’’ imbuhnya. Karena, lanjut politisi Nasdem ini, kalau membangun drainase baru, selain memakan waktu lama, anggaran yang dibutuhkan pasti tidak sedikit. Normalisasipun harus ada skala prioritasnya.

Saat musim hujan seperti sekarang ini, daerah tengah diklaim paling parah kondisi genangannya. Syamsul mencontohkan daerah Perumnas. Daerah tersebut merupakan salah satu titik genangan terparah. Beruntung masyarakat setempat berinisiatif gotong royong mengangkut sedimen dari drainase. ‘’Tapi yang jadi masalah ini pengangkutan sedimen yang sudah diangkat dari drainase,’’ akunya.

Kondisi ini membutuhkan bantuan dari Dinas Kebersihan untuk mengangkut sedimen yang telah diangkat warga dari drainase. Sebab, kalau tidak segera diangkut, dikhawatirkan akan kembali jatuh ke drainase. Syamsul berharap, untuk tahun 2014 ini, paling tidak normalisasi drainase harus sudah selesai dalam Bulan November ini. ‘’Jangan hanya di jalan-jalan protokol saja yang ditangani,’’ ucapnya.

Tidak hanya Perumnas. Kondisi yang sama juga dialami sejumlah lingkungan di Kota Mataram. Seperti Kekalik Timur dan Batu Ringgit. Syamsul menyatakan dirinya meragukan data jumlah titik genangan yang ada di Mataram. Meskipun Dinas PU mengklaim titik genangan di Mataram tersisa enam titik, namun ia meyakini jumlahnya lebih dari itu. Karenanya, Syamsul menyarankan kepada PU agar mengidentifikasi penyebab pasti genangan di Mataram. ‘’Apa memang karena drainasenya atau data PU ini hanya data ABS (Asal Bapak Senang, red),’’ pungkasnya. (fit)

Komentar