Awasi Agen Elpiji



KERESAHAN masyarakat terhadap kelangkaan elpiji 3 kilogram mulai dijawab jajaran Pemkot Mataram melalui Dinas Koperindag (Koperasi Perindustrian dan Perdagangan). Dinas Koperindag Kota Mataram akhirnya duduk bersama Depo Pertamina, Hiswana Migas dan para agen. Pertemuan itu menyepakati digelarnya OP (operasi pasar) elpiji mulai Rabu (14/1) hari ini.

Kalau mau jujur, pihak-pihak terkait seperti Diskoperindag Kota Mataram, Hiswana Migas dan para agen harus mencari solusi jangka panjang terkait persoalan elpiji 3 kilogram ini. Karena rupanya langkah OP hanyalah merupakan solusi sesaat menyikapi kepanikan masyarakat. Kelangkaan elpiji 3 kilogram di Kota Mataram bahkan di Pulau Lombok sudah berlangsung cukup lama, bahkan sejak tahun 2014 lalu.

Kala itu, Pemda telah melakukan langkah serupa seperti yang dilakukan saat ini, yaitu menggelar OP. OP dihajatkan menekan kelangkaan berikut menstabilkan harga elpiji 3 kilogram. Di pasaran, harga elpiji 3 kilogram dibanderol bervariasi, tapi rata-rata pedagang menjual di atas HET (Harga Eceran Tertinggi). HET elpiji 3 kilogram telah ditetapkan Rp 14.750 per tabung. Namun ironisnya dipasaran, elpiji dalam tabung melon ini dijual antara Rp 25 ribu dan kini telah menembus Rp 30 ribu per tabung.

Harga jual elpiji 3 kilogram di Kota Mataram sudah sangat tidak wajar dan membuat resah rumah tangga pengguna tabung melon itu. Karena dengan harga yang selangit itu, keberadaan elpiji 3 kilogram di Mataram justru langka. Tidak lama setelah menggelar OP di enam kecamatan di Kota Mataram, kelangkaan kembali terulang. Bukan tidak mungkin kembali langkanya elpiji 3 kilogram mengindikasikan ada persoalan serius dalam pendistribusian.

Entah siapa yang bermain dalam elpiji 3 kilogram. Sebab kalau dirunut ke belakang, sebetulnya tidak ada alasan yang membuat elpiji 3 kilogram menjadi langka dan mahal harganya. Seperti hasil penelusuran Komisi II DPRD Kota Mataram yang mendatangi Pertamina bahwa pasokan elpiji lancar dan tidak ada persoalan. Kendala cuaca diprediksi terjadi pertengahan Bulan Februari. Logikanya, dengan pasokan yang lancar dari Pertamina, di tingkat pengecer tidak akan ada masalah terkait stok.

Nyatanya kelangkaan elpiji seperti tak berujung. Harus berapa kali OP lagi untuk memutus mata rantai kelangkaan elpiji 3 kilogram? Karena OP yang sudah pernah dilakukan tidak menyelesaikan persoalan. Malah, elpiji 3 kilogram yang diniatkan untuk rumah tangga elpiji, terkesan sasal sasaran. Yang membeli justru kios-kios yang mempunyai banyak tabung.

Karena masyarakat di tingkat rumah tangga rata-rata memiliki satu tabung atau paling banyak dua tabung. Artinya OP didominasi oleh para pemilik kios yang tentunya untuk dijual kembali dengan harga tinggi atau bahkan dua kali lipat. Tidak sebatas OP, justru yang paling dibutuhkan sekarang adalah pengawasan ketat terhadap para agen dalam pendistribusian tabung melon itu kepada pengecer. Jangan sampai ada permainan harga karena hal itu akan sangat merugikan masyarakat. Apalagi, kalau ada upaya dari oknum-oknum tertentu untuk mengesankan langka dan mahalnya elpiji 3 kilogram. (*)

Komentar