Datangi Depo Pertamina Ampenan



Komisi II Telusuri Dugaan Kelangkaan LPG 3 Kg


Mataram (Suara NTB) –
Maraknya keluhan masyarakat terhadap fenomena kelangkaan LPG 3 kilogram, akhirnya disikapi Komisi II DPRD Kota Mataram. Komisi yang membidangi masalah keuangan dan ekonomi ini, Kamis (8/1) kemarin mendatangi Depo Pertamina Ampenan. Kedatangan Komisi II yang dipimpin Sekretaris Komisi II, Drs. HM. Noer Ibrahim untuk menelusuri dugaan kelangkaan LPG 3 kilogram.

Kedatangan lima anggota Komisi II ini diterima oleh oleh Pimpinan TBBM Ampenan atau Depo Pertamina Ampenan, Muhammad Ali Basah dan jajarannya. Membuka maksud kedatangan Komisi II, Noer Ibrahim mengungkapkan keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan LPG 3 Kg. Kelangkaan LPG 3 kilogram, imbuh anggota Komisi II, Hj. Baiq Mirdiati, diperparah dengan beralihnya konsumen LPG 12 kilogram ke tabung melon sebagai akibat kenaikan harga LPG 12 kilogram.

Dari harga pasaran Rp 15 ribu untuk LPG 3 kilogram, ibu-ibu rumah tangga, lanjutnya berani membeli dengan harga mencapai Rp 25 ribu. ‘’Itupun barangnya tidak ada,’’ cetusnya. Karenanya, Akhmad Azhari Ma’aruf yang juga anggota Komisi II mempertanyakan bagaimana sistem distribusi LPG 3 kilogram berikut sistem kontrol yang dilakukan Pertamina.

Tidak hanya itu, Komisi II juga melakukan penelusuran di lapangan dengan mendatangi pangkalan dan juga pengecer. Noer Ibrahim berjanji akan melakukan penyisiran ulang terhadap sembilan agen LPG di Mataram. Pasalnya, ada indikasi kelangkaan LPG yang terjadi, salah satunya akibat pengecer tak mengikuti aturan main. ‘’Mereka lebih mementingkan kedekatan sehingga terjadi kelangkaan,’’  ungkapnya.

Politisi partai berlambang pohon beringin ini berharap agen benar-benar bekerja profesional. Akhmad Azhari Ma’aruf menyesalkan sembilan agen yang katanya punya daerah operasi sendiri-sendiri tak mampu memenuhi kebutuhan LPG warga Mataram. ‘’Faktor alam bukan alasan. Karena dari jauh-jauh hari harus dihitung tandasnya.

Dijelaskan pihak pihak Depo Pertamina Ampenan, kebutuhan LPG di Mataram sebetulnya belum terlalu tinggi. Rata-rata dua tabung per kepala keluarga per bulan. Sedangkan sistem distribusinya masih berkiblat pada kuota provinsi, belum menggunakan kuota kabupaten/kota. Padahal, kalau menggunakan kuota per kabupaten/kota, kebutuhannya menjadi lebih jelas. Disebutkan, kuota tahun 2014 sebanyak 53.450 metrik ton per tahun. Sedangkan kuota tahun ini sekitar 61.538 metrik ton.

‘’Ada peningkatan sekitar 15 persen,’’ cetusnya. Sistem distribusi LPG, lanjutnya, agak unik. Pertamina hanya melakukan distribusi sampai ke tingkat SPBE (Stasiun Pengisian Bulk Elpiji) . Di NTB, terdapat empat SPBE. Masing-masing di Lembar, Lingkar Selatan, pancor Dau dan Sikur. Kapasitas satu SPBE mencapai 130 ribu metrik ton. ‘’Mereka ini mengambil dari depo di Bali. Stok di Lombok untuk dua hari,’’ imbuhnya.

Untuk Kota Mataram sendiri terdapat sembilan agen yang melayani kebutuhan LPG se-Kota Mataram. Ali Basah mengaku, dalam pengiriman, Pertamina kerap dihadapkan pada cuaca yang kurang bersahabat. Puncak gelombang tinggi, kata Ali basah yang menjabat sebagai Kepala Depo Pertamina Ampenan sejak 3 Desember 2014 itu, pada pertengahan Februari nanti. (fit)

Komentar