Jangan Abaikan Pertanian



RUSAKNYA 55 ribu meter irigasi di Kota Mataram dari total panjang irigasi di Mataram 70 ribu meter, mengundang keprihatinan kalangan DPRD Kota Mataram. Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, I Gede Wiska, SPt., kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Rabu (21/1) mengungkapkan, tata ruang harus menjadi perhatian serius pemerintah.

‘’Jangan lupa masyarakat kita (Mataram, red) masih banyak yang bergantung pada pertanian,’’ ujarnya. Karenanya, sudah seharusnya tata ruang di Mataram menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Apalagi, lanjut Wiska, presiden Jokowi telah menekankan pentingnya swasembada pangan.

Mestinya hal ini ditindaklanjuti oleh pemerintah di kabupaten/kota, tidak terkecuali di Kota Mataram. jangan sampai izin perumahan yang diberikan Pemkot Mataram justru mengabaikan sektor pertanian. ‘’Irigasi ini menjadi catatan kami di Komisi III,’’ aku Wiska. Karenanya, sambung politisi PDI Perjuangan ini, irigasi yang ada harus tetap dirawat.

Sikap itu sebagai bentuk dukungan terhadap komitmen pemerintah pusat bagaimana mewujudkan swasembada pangan. ‘’Jangan masyarakat ‘’dipaksa’’ mengalihkan fungsi lahan pertaniannya,’’ demikian Wiska. Ia tidak menampik, masyarakat pemilik sawah terpaksa melepas sawahnya dengan iming-iming harga yang mahal.

‘’Memang benar kita kekurangan perumahan, namun  perlu dipikirkan pula nasib petani kita,’’ imbaunya. Wiska kembali mengatakan Pemkot Mataram harus memperhatikan apa yang menjadi program pemerintah pusat terkait target swasembada pangan. Ia melihat, salah satu upaya untuk mewujudkan swasembada pangan dengan mempertahankan keberadaan lahan pertanian atau lahan abadi.

Meskipun Kota Mataram merupakan kota dengan orientasi jasa dan perdagangan, namun pertanian tidak boleh hilang. Sebetulnya dalam RTRW tiap-tiap zona sudah diatur. Hanya saja dalam penerapan RTRW itu pemerintah menunjukkan sikap tak konsisten. ‘’Apa yang dicanangkan itu tidak dilaksanakan,’’ pungkasnya. (fit)

Komentar