ANGGOTA
Pansus Raperda Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup DPRD Kota Mataram,
Akhmad Azhary Ma'aruf meminta BLH (Badan Lingkungan Hidup) Kota Mataram memperhatikan
keberadaan tiga sungai di Kota Mataram, masing-masing Sungai Ancar, Sungai
Jangkuk dan Sungai Unus.
''Mungkin
sekarang belum muncul masalah, tapi alangkah baiknya diantisipasi dari
sekarang,'' ujarnya. Ketiga sungai ini, lanjut Akhmad Azhary Ma'aruf, sudah
mulai menyempit dan mengalami pendangkalan. Beberapa pengembang dituding tidak
memperhatikan kondisi tiga sungai itu. Tidak hanya itu, penduduk yang membangun
sempadan sungai juga tidak pernah ditegur.
''Sempadan
sungai ini masih diabaikan,'' tegasnya. Padahal, menurut anggota dewan dari Partai
Hanura ini, ketiga sungai itu diyakini tidak hanya tercemar bakteri ecoli dan
sampah, tapi juga terusik limbah-limbah yang berasal dari usaha-usaha rumahan
seperti pembuatan tahu tempe. ''Banyak dari usaha-usaha kecil membuang
limbahnya ke sungai-sungai ini,'' sebutnya.
Kondisi
itu tentu cukup mengkhawatirkan, mengingat masyarakat di hilir sungai itu masih
banyak yang memanfaatkan sungai itu untuk keperluan mandi dan mencuci. ''Makanya
BLH harus lebih teliti,'' pintanya. Ia mencontohkan, Sungai Ancar menunjukkan
air yang tidak pernah jernih. Akhmad Azhary Ma'aruf menduga kemungkinan ada
industri yang membuang limbahnya ke sana.
Demikian
pula dengan Sungai Jangkuk yang sudah menyempit. Untuk menyelamatkan tiga
sungai ini, Akhmad Azhary Ma'aruf menekankan pentingnya koordinasi antar SKPD,
seperti BLH dan Dinas PU. Pasalnya, kecamatan-kecamatan yang menjadi penyangga
air, justru sudah banyak dibangun.
SKPD
terkait juga diminta berkoordinasi untuk membersihkan tiga sungai itu. Sebab
perilaku masyarakat sekarang kerap membuang sampah ke sungai. ''Dan tidak ada
perhatian sama sekali,'' cetusnya. Pada bagian lain, Akhmad Azhary Ma'aruf juga
meminta BLH Kota Mataram menyiapkan anggaran untuk membuat biopori untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. (fit)
Komentar