Usung Tiga Isu Strategis



Komunitas PUK Temui Ketua DPRD Kota Mataram


Mataram (Suara NTB) –
Asosiasi perempuan usaha kecil (PUK) dan jaringan perempuan usaha kecil komunitas perempuan, seperti Panca karsa, Konsepsi, PSP dan lain-lain Rabu (4/2) kemarin, melakukan audiensi ke DPRD Kota Mataram. mereka mengusung tiga isu strategis berkaitan dengan perempuan. Yakni kondisi usaha kecil perempuan, keberadaan pasar modern dan Perda Kota Mataram No. 3 tahun 2014 tentang UMKM.

Ketua Panca Karsa Mataram, Baiq Halwati, yang ditemui Suara NTB usai audiensi mengaku, dalam mengembangkan UMKM, komunitas perempuan yang ada, belum dilibatkan oleh Pemkot Mataram. padahal, selaku pendamping usaha kecil perempuan, mereka cukup paham bagaimana kondisi di lapangan. Dibukannya kran perizinan terhadap pasar modern, membuat komunitas perempuan, terusik.

Para pendamping usaha kecil perempuan mengaku gelisah karena begitu banyaknya izin yang diberikan Pemkot Mataram tentang pasar modern. Dalam pemberdayaan sebetulnya bagaimana pengusaha kecil bisa berkolaborasi dengan pasar modern. ‘’Tapi kenyataannya itu tidak ada. Malah banyak dari usaha kecil kita yang sudah gulung tikar,’’ terangnya. Halwati menilai, selama ini Pemkot Mataram masih berorientasi pada PAD semata.

Pemkot Mataram seperti diketahui menargetkan terciptanya 10 ribu wirausaha baru. Namun fakta di lapangan kontradiktif antara target 10 ribu wirausaha baru dengan getolnya Pemkot Mataram memberi izin kepada pasar modern. Halwati berharap perempuan usaha kecil diberikan ruang yang lebih memadai dengan retribusi yang tidak memberatkan.

Selama ini, retribusi yang dipungut dari usaha kecil dengan yang dikembalikan pemerintah kepada mereka dalam bentuk fasilitas ataupun bantuan modal usaha dinilai tidak sebanding. Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi yang menerima kunjungan itu menyambut positif aspirasi yang disampaikan asosiasi perempuan usaha kecil ke Dewan. ‘’Komunitas seperti ini kita butuhkan sebagai bagian dari stake holder yang harus bersinergi dengan Dewan dan eksekutif,’’ terangnya.

Didi menyarankan eksekutif merangkul asosiasi perempuan usaha kecil ini kemudian dilibatkan dalam proses apa saja yang dilakukan pemerintah terkait pemberdayaan masyarakat. Terkait WUB, keberdaan asosiasi perempuan usaha kecil dinilai sangat membantu. (fit)

Komentar