BEBERAPA
hari terakhir sejumlah daerah, termasuk Kota Mataram dilanda cuaca buruk. Mulai
dari angin kencang hingga gelombang pasang. Bahkan, hujan disertai angin
kencang yang terjadi dua hari lalu, menimbulkan kerugian. Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram mencatat ada empat bangunan rusak pada saat
hujan deras disertai angin kencang melanda Kota Mataram Sabtu (21/2).
Empat
bangunan ini terdiri dari satu unit warung, satu garasi mobil, satu unit rumah,
dan satu bangunan. Kerusakan empat bangunan ini diklaim BPBD Kota Mataram dalam
katagori rusak ringan. Namun demikian, kerusakan ini harus segera dikoordinasikan
dengan dinas terkait agar segera dilakukan perbaikan.
Tidak
hanya itu. Jumlah pohon yang tumbang sebanyak 10 dan tujuh ranting yang
tersebar di berbagai lokasi diantaranya di Jalan Brawijaya dua pohon ukuran
besar, Jalan Kerinci satu pohon besar, Jalan Pendidikan, dekat Kantor Camat
Cakranegara, Sayang-Sayang empat pohon, Jalan Catur Warga, dan beberapa tempat lainnya.
BPBD Kota Mataram juga memprediksi ketinggian gelombang di wilayah pesisir Pantai
Ampenan mencapai 3 hingga 3,5 meter.
Kondisi
tersebut tentu kurang bersahabat. Tidak hanya nelayan, masyarakat umumpun cukup
khawatir dengan kondisi cuaca yang terjadi belakangan ini. Kondisi ini, jelas
membutuhkan kepekaan dari pemerintah untuk melindungi warga. Idealnya harus ada
tim reaksi cepat yang disiagakan di posko-posko untuk mengantisipasi hal-hal
yang tidak diinginkan.
Posko
harus dibangun di lokasi-lokasi strategis yang tidak menyulitkan petugas
melakukan langkah-langkah evakuasi atau penyelamatan warga. Untuk
mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi saat cuaca buruk, mutlak dibutuhkan
koordinasi yang baik antar SKPD. Masalah bencana tidak semata-mata menjadi
tugas dan tanggungjawab BPBD Kota Mataram. SKPD lain seperti Disosnakertrans
(Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi) dan Dinas Kesehatan juga perlu
terlibat.
Disosnakertrans
bisa segera berkoordinasi dengan Lurah atau Camat bersangkutan untuk segera
menggelontorkan bantuan sandang dan pangan bagi nelayan yang terpaksa absen
melaut selama terjadinya gelombang tinggi. Lurah sebagai perpanjangan tangan
pemerintah tentu mengetahui seperti apa kondisi warganya. Data jumlah nelayan
yang libur melaut harus riil diberikan kepada pihak terkait seperti BPBD Kota
Mataram, Disosnakertrans Kota Mataram dan Dikes.
Ini
untuk memastikan jumlah bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang berhak
menerima. Demikian pula dengan Dikes harus ada petugas medias yang disiagakan
untuk membantu masyarakat. Karena cuaca seperti ini tidak dipungkiri rentan
mengganggu kesehatan. Apalagi masyarakat yang berada di pesisir pantai. Tim-tim
yang telah dibentuk pemerintah dalam rangka antisipasi bencana, harus bekerja
maksimal. Bila perlu, ada petugas yang diterjunkan langsung ke lapangan untuk
memantau kondisi warga.
Warga
pesisir pantai misalnya, harus terus diimbau untuk mewaspadai cuaca buruk.
Jangan sampai ada nelayan yang nekat turun melaut di saat cuaca tidak
bersahabat seperti ini. Supaya nelayan tidak melakukan hal-hal yang
membahayakan dirinya seperti melaut saat gelombang pasang, karenanya pemerintah
harus cepat tanggap memberikan bantuan sembako dan lain sebagainya. (*)
Komentar