Angkutan Pelajar Perlu Dikaji Ulang



RENCANA Dishubkominfo (Dinas Perhubungan Komunikasi Dan Informatika) Kota Mataram menjadikan angkot (angkutan kota) menjadi angkutan khusus pelajar, menuai pro kontra. Salah seorang yang kontra dengan rencana itu adalah Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Muhtar, SH.

Kepada Suara NTB di kantornya, Kamis (5/3) kemarin, Muhtar mengungkapkan, ketidaksetujuannya atas rencana tersebut. Muhtar meminta Dishubkominfo mengkaji kembali rencana tersebut. ''Kalau angkot dikhususkan untuk pelajar, bukan namanya angkot,'' cetusnya.
Kalau memang Dishubkominfo punya rencana terkait angkutan khusus pelajar, fasilitas kendaraan mestinya disiapkan Pemkot. ''Kalau fasilitasnya milik masyarakat umum, saya rasa sulit,'' imbuhnya. Sebab, tidak mungkin angkot akan menolak penumpang yang notabene dari kalangan umum.

Kata Muhtar, akan sulit membatasi angkot hanya boleh mengangkut pelajar. Selain itu perlu dipikirkan juga regulasi yang menjadi payung hukum pemberlakuan aturan tersebut. Sebetulnya alasan Dishubkominfo menunjuk angkot menjadi angkutan pelajar untuk menyelamatkan angkot dari ancaman kebangkrutan dipandang kurang pas.

Karena, sambung Muhtar, tanpa menjadikan angkot sebagai angkutan khusus, dari dulu angkot sudah dipersilahkan mangkal di depan sekolah untuk melayani penumpang dari kalangan pelajar. Rencana penunjukkan angkot menjadi angkutan khusus pelajar sama saja membatasi ruang gerak angkot.

Untuk menggairahkan angkot tidak harus dengan pola menjadiknnya sebagai angkutan pelajar. ''mungkin bisa dengan subsidi dan lain sebagainya,'' imbuhnya. Agar angkot bisa eksis seperti angkutan lainnya, memang dibutuhkan inovasi dan kreatifitas. Buktinya, di daerah lain, angkot justru menjadi angkutan primadona.

Ia mencontohkan kreatifitas para pemilik angkot di Pekanbaru, Riau yang melengkapi angkotnya dengan pengeras suara untuk menarik minat penumpang. Bentuk inovasi lainnya, bisa juga dengan merubah warna angkot. ''Jangan kuning-kuning terus, bosan orang. Mungkin bisa merah, putih atau biru,'' kelakarnya.

Muhtar kembali mempertanyakan komitmen dishubkominfo menjadikan angkot sebagai angkutan khusus pelajr. ''Apa bisa? Sudahlah kita jangan buat rencana yang muluk-muluk,'' pintanya. Jangan sampai terkesan ada pemaksaan kehendak semua siswa harus naik angkot nantinya. Pasalnya tidak semua jalur bisa dilewati angkot. Lebih baik Dishubkominfo menggencarkan sosialisasi penggunaan angkot kepada pelajar maupun masyarakat umum untuk mengantisipsi punahnya angkot. (fit)

Komentar