PESATNYA
pembangunan di Kota Mataram membuat Pemkot Mataram sulit menahan laju alih
fungsi lahan pertanian menjadi bangunan fisik. ‘’Dimana-mana kota, ndak pernah
saya lihat yang namanya lahan abadi, tapi yang terpenting adalah penataan,’’
kata anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram, Lalu Suriadi, SE., kepada Suara NTB di kantornya, Senin (2/3).
Di
Mataram, lahan pertanian tersisa sekitar 2.600 hektar. Namun dari 2.600 hektar
lahan pertanian yang ada, 600 hektar adalah milik pengembang. ‘’Tinggal 2.000.
Nah itu sekarang saya yakin juga ke depan akan habis,’’ ujarnya. Hal ini
nampaknya sejalan dengan pernyataan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh yang
menyatakan sangat sulit melarang petani menjual sawahnya.
Sehingga,
Suriadi berpandangan, pendataan lahan pertanian penting dilakukan bersamaan
dengan penataan. Maksudnya, lanjut Suriadi, bagaimana agar ketersediaan RTH
(Ruang Terbuka Hijau), sempurna bisa mencapai 30 persen. Sementara itu mengenai
lahan abadi, Pemkot Mataram dinilai tidak mungkin bertahan dengan jumlah luas
lahan pertanian yang ada sekarang.
Hal
ini mengingat kewenangan pemerintah juga terbatas. Sebab, rata-rata lahan
pertanian bukan merupakan aset daerah, melainkan milik masyarakat. Menyusutnya
lahan pertanian juga tidak terlepas dari fenomena ekonomi. ‘’Kita ingin
pertumbuhan ekonomi Kota Mataram baik, ya apa boleh buat, pertumbuhan ekonomi
kita perkuat yang tentunya melibatkan investor,’’ terang politisi PAN ini.
Menurut
Suriadi, kalau orientasi lahan abadi adalah untuk menopang ketersediaan pangan,
tidak ansih dengan cara mempertahankan lahan pertanian. Ketahanan pangan bisa
dilakukan dengan bekerjasama dengan daerah tetangga untuk memproduk pangan. Mau
tidak mau, keberadaan lahan abadi di Mataram sulit dipertahankan.
‘’Ini
yang perlu diberi masukan. Jadi ketahanan pangan bukan berarti kita harus punya
lahan pertanian untuk berproduksi, tapi bagaimana ketahanan pangan ada di
daerah kita. Entah mau kerjasama dengan daerah lain atau apa yang penting
ketersediaan pangan terjamin,’’ pungkasnya. (fit)
Komentar