PEMKOT
Mataram dinilai lambat menangani kasus hilangnya aset di MWP (Mataram water
Park). ‘’Sampai sekarang mereka belum lapor. Katanya masih nyusun kerugiannya,
jadi kesannya lambat,’’ ujar Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, I Gede Wiska,
SPt., menjawab Suara NTB di Kantor
DPRD Kota Mataram, Jumat (13/3).
Demikian
pula, terkait siapa yang mengelola MWP, juga ada miskoordinasi antara Dinas
Pertamanan dan BPKAD. Ia menyayangkan MWP yang telah dibangun dengan biaya Rp 6
miliar, justru disia-siakan. ‘’Jangankan untuk dirawat, dijaga saja tidak,’’
cetusnya kecewa. Sikap Pemkot Mataram yang begitu lamban menyikapi hilangnya
aset di MWP dinilai tidak bertanggungjawab.
Ia
berhadap, kasus hilangnya aset di MWP menjadi pelajaran bagi pemerintah. Paling
tidak Pemkot mengupayakan untuk memanfaatkan MWP. ‘’Walaupun tidak mendapat PAD
dari sana, paling tidak MWP bisa dimanfaatkan oleh atlet renang untuk melakukan
latihan,’’ ungkapnya. Meskipun pada kenyataannya jumlah lintasan dan kedalaman
masih kurang, namun kalau hanya untuk latihan diyakini bisa dimanfaatkan.
Untuk
itu, Wiska meminta Pemkot Mataram mengkaji betul rencana mengkomersilkan MWP. ‘’Kalau
memang bermanfaat bagi masyarakat, kenapa tidak? Kita pasti mendukung,’’
akunya. Namun demikian, rencana itu juga harus melalui kajian. Jangan sampai
keinginan Pemkot Mataram mengubah MWP menjadi kolam komersil tanpa ada rencana
dan target yang jelas. Karena, jangan sampai munculnya rencana pemanfaatan MWP
itu dilatarbelakangi desakan dari berbagai pihak, termasuk kalangan Dewan.
Politisi
PDIP ini juga menyayangkan lambannya Pemkot mengambil langkah pemanfaatan MWP
dengan alasan akan ada investor yang masuk. Apalagi belakangan Pemkot mengklaim
investor yang sedianya akan membangun hotel di sekitar MWP mundur lantaran
menjamurnya hotel di Mataram. ‘’Akhirnya terbengkalai. Alasannya klasik sekali.
Kemarin itu karena akan ada investor masuk makanya tidak dianggarkan,’’ kata
Wiska.
Seharusnya,
Pemkot tetap menganggarkan pengelolaan MWP, sebagai langkah antisipasi. Kalau toh akhirnya tidak terpakai, tentu
akanmenjadi Silpa. ‘’Ini kesannya pemerintah meramalkan bahkan memastikan
investor akan masuk. Paling tidak dianggarkan untuk pemeliharaan dan
penjagaannya,’’ pungkas Wiska. (fit)
Komentar