KEBERADAAN
PKL di Kota Mataram diharapkan lebih tertata dan ada kontribusi yang jelas
kepada Kota Mataram. Demikian dikatakan Ketua Pansus Raperda tentang PKL, Drs.
HM. Husni Thamrin, MPd. Organisasi yang menaungi PKL seperti Apkli akan diajak
bicara, mana lokasi yang paling pas menjadi lokasi PKL berjualan. Hal ini tentu
tidak boleh bersinggungan dengan tata ruang yang ada di Kota Mataram.
Namun
di sisi lain, aturan ini juga jangan sampai merugikan PKL. Peliknya persoalan
PKL di Mataram diyaniki Husni akan memakan waktu yang cukup panjang. Pansus,
lanjutnya, akan meminta kepada eksekutif menentukan zona PKL sehingga tidak
lagi semrawut seperti sekarang ini. Selain itu para PKL juga akan
diklasifikasikan.
Mengenai
klasifikasi PKL, kata Husni, tidak hanya berdasarkan omzet tapi juga luas
lapaknya. Sebab, selama ini PKL belum ada kontribusi ke Kota Mataram. ‘’Memang
katanya mereka dipungut tapi ndak tahu siapa yang mungut,’’ ujarnya menjawab Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Rabu (25/3).
Agar tidak terjadi pungutan siluman, Dewan melalui Perda PKL nantinya akan
menertibkan pungutan-pungutan tak resmi tersebut.
Apalagi
jumlah PKL di Kota mataram diketahui jumlahnya mencapai ribuan orang. Artinya,
sambung Husni, kalau memang PKL ini ada kontribusi yang jelas, tentu PAD Kota
Mataram akan luar biasa. Raperda PKL ini menitikberatkan pada penataan PKL.
Namun tidak bisa dipungkiri pula, muara dari itu semua nantinya tentu
berimplikasi terhadap retribusi.
Selain
karena kondisi PKL yang semrawut, lahirnya raperda hak inisiatif tentang PKL
ini juga dilatarbelakangi lahirnya peraturan Mendagri nomor 41 tahun 2012
tentang pedoman penataan dan pemberdayaan PKL. ‘’Sehingga mau tidak mau harus
ditindaklanjuti dengan Perda untuk pengelolaan PKL. Sudah pernah ada memang
tapi belum dihapus oleh Mendagri sehingga harus buat ulang,’’ terang politisi
PPP ini.
Tujuannya,
selain untuk menindaklanjuti peraturan Mendagri, juga untuk mengayomi PKL yang
semakin menjamur di Mataram. Posisi Mataram sebagai ibukota Provinsi NTB
menjadi magnet bagi PKL. ‘’Setiap jalan ada PKL-nya,’’ katanya. (fit)
Komentar