Dibuka Ketua DPRD

Lima SDN di Mataram Jadi ‘’Pilot Project Green School’’ Indonesia


Mataram (Suara NTB) –
Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH., Rabu (10/6) kemarin membuka pelatihan AGSI (Adiwiyata Green School Indonesia) di Fave Hotel Mataram. Pelatihan ini berkenaan dengan ditunjuknya lima SDN di Kota Mataram sebagai pilot project Green School Indonesia. Adapun lima SDN yang menjadi percontohan sekolah berbasis lingkungan di Indonesia ini, adalah SDN 7 Ampenan di Banjar, SDN 21 Ampenan di Pondok Perasi, SDN 11 Mataram di Rembiga, SDN 5 Mataram di Dasan Agung dan SDN 5 Cakranegara.

Pelatihan itu dihadiri lima SDN yang menjadi pilot project green school itu. Terdiri dari kepala sekolah, guru, komite sekolah, pengawas pendidikan dan LSM. Sementara dari pusat hadir Perwakilan Unesco Indonesia Prof. Dr. Nur Indah, staf khusus Kemendiknas DR Tuti. ‘’Output dari program tersebut, Kota Mataram sebagai pusat pembelajaran dunia akan model pendidikan lingkungan berkelanjutan terintegrasi,’’ terang H. Didi Sumardi kepada Suara NTB usai menghadiri pembukaan pelatihan AGSI.

Orang nomor satu di DPRD Kota Mataram ini menyampaikan, AGSI ini merupakan program dari Unesco dan Kemendiknas. Intinya adalah, bagaimana melakukan pendidikan terintegrasi yang mengarah kepada pendidikan berbasis lingkungan. Sasaran kegiatan AGSI ini adalah sekolah yang melibatkan seluruh civitas akademika di sekolah tersebut. ‘’baik guru, murid, orangtua atau masyarakat. Termasuk Dikpora juga terlibat, khususnya melalui aparat pengawas pendidikan, terlibat di situ,’’ tutur H. Didi Sumardi.

Katanya, tidak hanya sekolah yang di up grade untuk membangun program green school. Mengingat program ini harus terintegrasi dengan lingkungan, maka lingkungan sekitar menjadi bagian tidak terpisahkan dari misi itu. Nantinya, program ini akan menjadi pilot project sekaligus menjadi pusat pembelajaran dunia terkait sekolah berbasis lingkungan.

‘’Mataram akan menjadi pusat pendidikan dunia yang berkelanjutan, yang berwawasan lingkungan. Kedua program ini akan terintegrasi ke kurikulum 2013,’’ terang Didi Sumardi. Ini, lanjutnya, semacam inovasi sistem berbasis kurikulum 2013. Pola pembelajaran nantinya akan disesuaikan dengan misi lingkungan.

‘’Misalnya, tidak lagi berorientasi pada teori semata. Namun lebih ditekankan kepada orientasi secara implementatif menerapkan ilmu soal lingkungan itu,’’ pungkasnya. Sekolah-sekolah yang terlibat, akan melaksanakan pendidikan berbasis lingkungan yang berkelanjutan, terintegrasi dengan kurikulum. Sehingga pola pembelajaran kepada siswa semacam penyempurnaan.

Polanya diyakini Didi Sumardi, akan berubah drastis. Tidak hanya guru memberikan ilmu lingkungan kepada siswa, tetapi lebih dominan pada praktik. ‘’Sehingga siswa bisa langsung praktik. Untuk mempelajari soal pencemaran lingkungan, dia (siswa, red) langsung  turun ke selokan, sungai. Kenapa bisa bau dan kotor. Dia menganalisa sendiri, faktornya apa,’’ terangnya.


Mereka akan berdiskusi berdasarkan pengamatan, untuk selanjutnya didiskusikan antar siswa sebagai dasar menyusun rekomendasi. ‘’Kemudian itu akan menjadi tindaklanjut yang harus dilakukan oleh siswa tersebut,’’ tandasnya. (fit/*)

Komentar