Ingin Jadi KLA

Pemberdayaan Perempuan dan Anak Belum Dianggap Penting


Mataram (Suara NTB) -
Anggota Banggar DPRD Kota Mataram, Hj. Kartini Irwarni, SPd mengaku kecewa dengan sikap Pemkot Mataram yang dinilai masih belum menganggap penting masalah pemberdayaan perempuan dan anak. Indikasi ini terlihat dari minimnya anggaran untuk pemberdayaan perempuan dan anak yang dititipkan melalui BP2KB (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana) yang hanya Rp 290 juta.

Parahnya lagi, dalam APBD perubahan, pemberdayaan perempuan dan anak tidak kebagian tambahan anggaran. ''Saya sangat kecewa. Sudah anggarannya sedikit, tidak ditambah, malah sekarang mau dihapuskan,'' ujarnya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Kamis (4/6) kemarin. Menurut dia, keberhasilan sebuah daerah, termasuk Kota Mataram tidak hanya dilihat dari infrastruktur yang berhasil dibangun. ''Moralitas juga penting,'' tegasnya.

Maraknya masalah yang melibatkan perempuan dan anak-anak mestinya menjadi tolak ukur betapa pentingnya penambahan anggaran pemberdayaan perempuan dan anak. Sebab lanjut Kartini, anggaran Rp 290 juta yang parkir di BP2KB hanya cukup untuk membiayai dua program. ''Untuk kelembagaan, untuk program Kota Layak Anak dan pengarusutamaan gender,'' ungkapnya. Apalagi dengan telah dicanangkannya Mataram menuju KLA 2018 mestinya tidak selesai pada acara seremonial saat itu saja.

Artinya, kata politisi PKB ini, harus ada program berkesinambungan. Tetapi, jika Pemkot tidak berpihak terhadap pemberdayaan perempuan dan anak, bukan tidak mungkin harapan untuk menjadi KLA pada 2018 semakin jauh. ''Bisa-bisa kita (Mataram, red) tidak jadi layak anak,'' pungkasnya. Karenanya, Kartini mengimbau agar program menuju KLA dilanjutkan dengan program yang menyentuh langsung kepada anak-anak. Ia kembali menegaskan pentingnya pembangunan moral.

Karena sudah banyak kasus kriminal yang melibatkan ibu rumah tangga dan anak-anak. ''Yang menjadi hambatan, terkadang mereka tidak mau melapor karena takut keluarganya malu dan lain sebagainya. Untuk itu, Kartini mengatakan dirinya akan terus mengawal anggaran untuk perempuan dan anak. Ia berharap dalam APBD 2016 nanti, anggaran pemberdayaan perempuan dan anak ditambah. Jangan sampai anggaran pemberdayaan perempuan dan anak stagnan pada nominal Rp 290 juta.


Sekda Kota Mataram, Ir. HL. Makmur Said, mengakui pada APBD perubahan tidak ada penambahan untuk sektor pemberdayaan perempuan dan anak. Alasannya, karena penambahan anggaran pada APBD-P ini banyak tersedot untuk penyelenggaraan Pilkada. Antara lain untuk hibah anggaran kepada KPU Kota Mataram, Panwaslu, Polres Mataram dan Dandin 1606. (fit)

Komentar