Rapat Kerja dengan Dikpora

Dewan Evaluasi UN dan Konfirmasi Persiapan PPDB


Mataram (Suara NTB) –
DPRD Kota Mataram, Jumat (12/6) kemarin, melaksanakan rapat kerja dengan jajaran Dinas Dikpora Kota Mataram berikut Forum Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Kota Mataram. Rapat itu hajatannya untuk mengevaluasi pelaksanaan UN (Ujian Nasional) di Kota Mataram sekaligus mengkonfirmasi persiapan pelaksanaan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) yang akan dilaksanakan 1 Juli mendatang.

Rapat kerja itu dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH dan dihadiri hampir semua anggota Komisi IV DPRD Kota Mataram. Didi Sumardi yang dikonfirmasi lebih lanjut, meminta kepada pihak-pihak terkait, hendaknya meninjau timing pelaksanaan UN. Meskipun UN ini alat untuk mengukur kualitas, kalau dilaksanakan di akhir proses pembelajaran, yakni di semester ganjil akhir, bagi kelas akhir, persepsinya tidak akan berubah.

‘’Siswa itu pada posisi ada pengaruh psikologis. Itu saya usulkan, UN bisa dilaksanakan dalam tahun terakhir. Kalau di semester ganjil, kalau SMP begitu naik kelas III dilakukan UN di situ,’’ usulnya. Ini sejalan dengan pernyataan Mendiknas Anies Baswedan bahwa ke depan UN akan dilaksanakan di akhir semester ganjil. Yang tidak kalah pentingnya, bagaimana Pemda mem-follow up hasil pemetaan sebagai langkah evaluasi untuk mengukur capaian pelayanan menggunakan delapan standar.

‘’Problemnya dimana, apakah di guru, siswa, sarana, proses dan seterusnya,’’ cetusnya. Tindaklanjut seperti itu menjadi hal yang lebih urgen untuk bagaimana pemerintah secara sungguh-sungguh menjawab problem dasar soal pendidikan. Untuk itu, pihaknya harus berbicara mendalam dengan semua pihak. Khususnya sekolah-sekolah. ‘’Kita betul-betul bedah masalah itu. Termasuk bagaimana kepsek dan semua guru-guru bisa memahami posisinya seperti apa,’’ tambah politisi Golkar ini.

Kalaupun dari persepktif yang telah terlaksana, bisa dijadikan catatan baik buruknya seperti apa. Termasuk bagaimana menentukan perbaikan ke depan. ‘’Diantara hal yang kita cermati adalah lebih dominan mengisukan soal bocor,’’ sebutnya. Isunya, sambung orang nomor satu di DPRD Kota Mataram, jangan terhenti sampai di sana. Pihak-pihak terkait seperti Ombudsman, maupun Dikpora harus mendorong pihak-pihak yang mengatakan kunci jawaban UN bocor.

Isu itu harus ditindaklanjuti dan ditangani oleh pihak kepolisian sebagai cara menentukan masalah secara benar. Jangan sampai isu itu diputarbalikkan. Seolah-olah menjadi masalah siswa dan sekolah. Padahal, menurut Didi Sumardi, sekolah dan juga siswa pada posisi sebagai korban. ‘’Bisa saja orang-orang yang tidak punya tujuan baik, melakukan hal-hal seperti itu,’’ tandasnya. Terkait hasil UN, Dewan mengapresiasi. Hasilnya, aku Didi Sumardi, cukup membanggakan.

Ia berharap ke depan, hasil UN ini bisa lebih baik lagi. Didi Sumardi menegaskan, kecurigaan pihak tertentu indikasi kecurangan dalam bentuk bocornya kunci jawaban, tidak korelatif dengan fakta hasil UN. ‘’Kalau benar kunci jawaban itu bocor, saya kira rata-rata mereka akan dapat nilai 9 atau 10. Tapi faktanya di satu sekolah itu variatif. Saya sudah cek,’’ tandasnya.

Sedangkan terkait PPDB, Didi Sumardi menyambut baik dikembalikannya PPDB kepada sekolah. Karena bagaimanapun, sekolah yang paling tahu kapasitas sekolahnya berapa. Termasuk kalau berbicara BL (Bina Lingkungan), sekolah yang paling tahu siapa-siapa yang berada di sekitar sekolah itu. Meskipun dalam penerimaan siswa melalui jalur BL tetap selektif dengan pendekatan kewilayahan dan semangat.

‘’Yang terpenting bagaimana kita menjamin tidak ada seorangpun anak kita yang tidak sekolah,’’ tuturnya. Problem lain, adalah masih antusiasnya masyarakat mengharapkan sekolah-sekolah yang dianggap favorit. Untuk meminimalisir itu, ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama sosialisasi Dikpora dan sekolah secara massif kepada masyarakat. Sehingga masyarakat memiliki pengetahuan secara menyeluruh terkait hal itu. Paralel dengan itu, bagaimana menekan disparitas kualitas antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. ‘’Supaya antara sekolah yang satu dengan yang lain, kualitasnya beda-beda tipislah,’’ imbuhnya.  Pasalnya, tidak seluruh calon anak didik bisa tertampung di sekolah negeri.

Kepala Dinas Dikpora Kota Mataram, H. Sudenom mengatakan hasil UN cukup memuaskan. Sedangkan untuk PPDB, mulai tahun ini mekanismenya akan diserahkan ke masing-masing sekolah. Ketua Forum Kepala Sekolah Kota Mataram, L. Fatwir Uzali mengatakan, nilai rata-rata UN SMA tahun ini adalah B, sedangkan sebelumnya A. ‘’Kenapa B? Karena UN tahun ini hanyalah merupakan pemetaan, bukan penentu kelulusan. Anak-anak kita jadi kurang bersemangat, sehingga nilainya berkurang,’’ katanya.

Namun demikian, aku Kepala SMA 1 Mataram ini, Mataram masih menjadi barometer pendidikan di NTB. Ini terlihat dari peringkat nilai UN se-NTB. Sekretaris Pengawas Sekolah se-Kota Mataram, Edi Susilo, menegaskan, fokus pengawasan pihaknya kepada SMK. Ia berujar, untuk mendapatkan suasana belajar yang nyaman, dalam satu kelas idealnya diisi dengan 32 siswa. Itupun disebutnya jumlah paling banyak. Jika itu bisa terwujud, Edi meyakini bahwa SMK bisa menjadi solusi pengentasan masalah pengangguran. (fit/*)

Komentar