UMAT
muslim di seluruh dunia baru saja merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1436 hijriyah. Setelah
satu bulan melaksanakan ibadah puasa ramadhan, tentu banyak makna ataupun pesan
moral dari sebulan berpuasa yang puncaknya pada hari kemenangan, yang dapat
dipetik dari rangkaian bulan ramadhan dan bulan syawal ini.
Pesan
moral yang pertama, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat
manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Dalam diri
setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah,
naluri pengetahuan dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling
sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adalah naluri Syahwat.
Jika
ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau
bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial (keadaan
masyarakat) yang sangat mengkhawatirkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh
kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan
dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan
tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan
dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan
akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya dan seterusnya.
Pesan
sosial ramadhan ini terlukiskan dengan indah. Indah justru terlihat pada
detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawal. Dimana, ketika umat
muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada delapan katagori kelompok masyarakat
yang berhak menerima zakat. Terutama kaum fakir miskin tampak bagaimana tali
silaturahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan
kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan
tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan.
Semangat
zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong antara orang kaya
dan orang miskin. Antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang
yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya. Dalam kesempatan
ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan
yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT.
Pesan
lainnya adalah jihad. Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju
adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun
jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah. Dalam konteks masyarakat
Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata.
Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem
sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan atas
nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah.
Marilah
kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan ini
ke dalam bingkai kehidupan nyata. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa
nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan
merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama
muslim tanpa membeda-bedakan status sosial, serta menyandang semangat jihad
untuk membangun sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan
sejahtera. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 Hijriyah. (*)
Komentar