Pemerintah Harus Peka

DAERAH yang mengalami kekurangan air bersih nampaknya terus bertambah. Setelah sebelumnya 4.000 jiwa lebih warga yang mendiami tujuh dusun di bawah kaki Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Utara (KLU), mengalami kesulitan air bersih menyusul kekeringan yang melanda daerah itu, kasus serupa juga terjadi di Jerowaru, Lombok Timur. Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil (Disosdukcapil) Provinsi NTB menerima laporan dari Lombok Timur (Lotim), sebanyak lima desa yang terdiri dari belasan dusun kekurangan air bersih.

Meluasnya kasus kekurangan air bersih ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah. Apalagi pengakuan dari warga Dusun Batu Jompang Desa Sesait, Rosiadin bahwa kesulitan air bersih ini sudah mereka alami setiap tahun musim kemarau. Sayangnya perhatian dari Pemkab Lombok Utara terhadap masalah ini dinilai tidak pernah ada.

Menurut dia, jika musim kemarau tiba warga yang ada di tujuh dusun, yakni Dusun Lekok Are, Pansor Tengak, Pansor Bat, Sangiang, Aur Kuning, Kebaloan (Desa Sesait) dan Dusun Kelanjuan Desa Gumantar Kecamatan Kayangan hanya bergantung pada satu mata air yang berada di Dusun Sekeper Desa Santong.

Sikap cuek Pemkab KLU, cukup disesalkan. Pasalnya, kekurangan air bersih yang dialami warga dapat dikatakan merupakan fenomena tahunan setiap kali tibanya musim kemarau. Mestinya Pemda KLU bisa lebih peka terhadap persoalan ini. Apa yang menjadi permintaan warga setempat, yakni pengadaan pipa untuk mengalirkan air ke tempat penampungan sebelum dialirkan ke rumah-rumah warga. Pasalnya, saat musim kemarau, praktis warga di tujuh dusun tersebut hanya mengandalkan satu mata air yang berada di Dusun Sekeper Desa Santong.

Warga yang masih di hadapkan pada persoalan yang sama mengindikasikan minimnya perhatian Pemda KLU terhadap persoalan itu. Karena sudah menjadi persoalan rutin, seharusnya ada langkah antisipasi yang diambil Pemda KLU. Salah satunya seperti usulan warga untuk pengadaan pipa. Jangan sampai persoalan ini menjadi komoditi politik. Apalagi Desember mendatang KLU bersama enam kabupaten/kota lainnya akan menggelar Pilkada.

Demikian pula dengan Anggota DPRD NTB, M.Hadi Sulton diharapkan tidak sekadar prihatin. Artinya, sebagai wakil rakyat yang mendengar langsung apa yang menjadi keluh kesah masyarakat, diharapkan mampu memperjuangkan bagaimana supaya masyarakat tujuh dusun di KLU itu, tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih di musim kemarau.


Jika Pemda KLU tidak mampu menjawab tuntutan masyarakat, seperti yang sedang hangat diperbincangkan saat ini, anggota Dewan bisa memanfaatkan dana aspirasinya untuk hal tersebut. Demikian pula dengan Pemprov NTB, harus segera dilakukan langkah antisipasi. Misalnya dengan mendistribusikan truk pengangkut air supaya bisa memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga di daerah-daerah yang sudah mengalami kekeringan. Terlebih Pemda KLU harus lebih memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan warga. Jangan sampai karena sibuk berpolitik, urusan warga dikesampingkan. (*)

Komentar