Pikirkan Nasib Angkot

PEMKOT Mataram nampaknya harus mulai memikirkan nasib angkot atau yang biasa disebut bemo kuning. Sebab, jika benar 20 unit bus bantuan dari pemerintah pusat itu tiba dan beroperasional di Kota Mataram, bias menjadi ancaman serius bagi kelangsungan bemo kuning. Bagaimana tidak, jauh sebelum adanya wacana soal bantuan bus itu, kondisi bemo kuning di Kota Mataram ibarat pepatah hidup segan mati tak mau.

Semakin tingginya kepemilikan kendaraan pribadi menjadi salah satu faktor berkurangnya minat masyarakat terhadap moda transportasi umum itu. Dulu, bemo kuning menjadi salah satu angkutan umum yang cukup menjadi primadona di Kota Mataram. Seiring dengan perkembangan alat transportasi di samping kemapanan ekonomi masyarakat, penggunaan bemo kuning berangsung-angsur mulai ditinggalkan.

Hanya yang masih setia menggunakan bemo kuning adalah para siswa. Itupun hanya sebagian kecil saja. Sebab, Siswa SMA bahkan SMP di Kota Mataram banyak yang sudah membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Selain itu tidak sedikit pula pelajar yang dijemput orang tuanya. Kondisi ini membuat keberadaan bemo kuning di Kota Mataram semakin memprihatinkan.

Ditambah lagi dengan akan adanya bantuan 20 bus dari pemerintah pusat, diperkirakan akan membuat nasib bemo kuning tidak menentu. Oleh karena itu, Pemkot Mataram dalam hal ini Dishubkominfo (Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika) Kota Mataram diharapkan mengambil langkah cepat yang tentunya tidak merugikan salah satu pihak. Baik pengelola bus bantuan itu nantinya, terlebih para pengusaha bemo kuning.

Mencermati perkembangan Kota Mataram, sepertinya Dishubkominfo Kota Mataram tidak bisa kaku mempertahankan trayek bemo kuning yang ada saat ini. Langkah antisipasi sebelum beroperasinya 20 bus bantuan dari pemerintah pusat ini, harus digagas mulai sekarang. Jangan sampai setelah bus itu beroperasi Pemkot Mataram belum melakukan upaya apapun.

Yang dikhawatirkan, jika rencana hadirnya 20 bus bantuan dari pemerintah pusat ini tidak segera disosialisasikan, terutama kepada pengusaha angkot, bisa-bisa berimbas pada penolakan bemo kuning. Hal ini dapat dipahami, masih cukup banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari usaha angkot.  Tidak saja pengusaha angkot itu sendiri tapi juga para sopir dan juga pembantu sopir.


Kebijakan yang paling mungkin dan masuk akal yang bisa dilakukan Pemkot Mataram melalui Dishubkominfo Kota Mataram adalah menata trayek yang adil bagi bemo kuning dan bus tersebut. Jangan sampai akibat pengaturan trayek yang keliru berpotensi menimbulkan gesekan di lapangan antara pengusaha angkot dengan bus tersebut. Wacana yang pernah dilontarkan Dishubkominfo Kota Mataram menjadikan angkot sebagai kendaraan carteran juga bisa menjadi alternatif bagi pengusaha angkot. Dengan catatan, tarif juga harus diatur, sehingga dalam praktiknya nanti pemilik angkot tidak memasang tarif sesuka hatinya. (*)

Komentar