Program Jangan ''Copy Paste''


KETUA Fraksi Gerindra DPRD Kota Mataram, Drs. Ketut Sugiarta menyayangkan masih banyaknya kawasan kumuh di Kota Mataram. Seperti pengakuan Kepala Dinas PU Kota Mataram, Ir. H. Mahmuddin Tura bahwa Mataram memiliki 800 hektar kawasan kumuh. ''Ini cukup besar dan harus menjadi perhatian bersama,'' katanya menjawab Suara NTB di ruang kerjanya,  Sabtu (8/8).

Pasalnya Mataram bukanlah kota yang teramat luas sehingga Pemkot Mataram kesulitan melakukan pengawasan. Yang menjadi kekhawatiran pihaknya, kata Ketut Sugiarta, keberadaan kawasan kumuh jelas berimplikasi pada kesehatan masyarakat yang mendiami kawasan tersebut. Menurutnya, salah satu penyebab mengapa penanganan kawasan kumuh terkesan stagnan atau jalan di tempat lantaran program yang dicanangkan dengan pelaksanaan di lapangan sering tidak sesuai.

Kondisi berbedanya program dan pelaksanaan di lapangan tidak terlepas dari pendataan. ''Kita lemah di pendataan. Ini yang salah satunya perlu kita tingkatkan, menyajikan data sesuai kondisi riil di lapangan,'' pungkasnya. Di Mataram, lanjut anggota Komisi III DPRD Kota Mataram ini, lemahnya pendataan kerap berimplikasi pada bantuan yang tumpang tindih.

Menurut Ketut Sugiarta untuk mengantisipasi tumpang tindih bantuan, mestinya pendataan dilakukan melalui Kepala Lingkungan. Ia mengatakan manajemen penanganan kawasan kumuh di Kota Mataram harus dibenahi. Sebab banyak kasus pemberian bantuan yang dinilai salah sasaran. ''Seperti bantuan pemasangan sambungan air minum gratis. Dalam satu rumah ada yang dapat sampai empat orang. Sementara di rumah lain yang seharusnya dapat, justru tidak dapat. Ini karena apa kalau bukan karena pendataan yang keliru,'' terangnya.

Ketut Sugiarta mengingatkan jangan sampai program penanganan kawasan kumuh menjadi bagian dari program copy paste. Intinya harus ada keterbukaan dan juga supervisi dalam pelaksanaan program penanganan kawasan kumuh ini. Dikatakannya, ada tiga hal mendasar yang menjadi penyebab utama belum berhasilnya penanganan kawasan kumuh. Pertama, pendataan yang lemah, kedua program yang tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan dan ketiga kurangnya kordinasi dan komunikasi dengan Pemprov NTB.


Disamping itu, Pemkot Mataram juga dinilai minim inovasi. Mestinya, kata Ketut Sugiarta tiap-tiap lingkungan punya inovasi bagaimana mengajak masyarakat berbuat maksimal untuk bersama-sama membersihkan lingkungan. ''Masyarakat ini perlu diajak. Jangan hanya lip service saja. Bila perlu anggaran untuk itu perlu diadakan di tiap-tiap lingkungan,'' pintanya. (fit)

Komentar