Wawancara Khusus Ketua DPRD Kota Mataram

Risau Masa Depan Demokrasi, Ajak Wujudkan Pilkada Bermartabat


H. Didi Sumardi, SH
Mataram (Suara NTB) -
Dinamika proses Pilkada (khususnya di Kota Mataram) menimbulkan kerisauan akan masa depan demokrasi. Kerisauan ini juga dirasakan Ketua DPRD Kota Mataram, H. Didi Sumardi, SH. ‘’Sampai dengan hari ini, menjadi kerisauan saya sebagai Ketua DPRD Kota Mataram akan masa depan demokrasi kita,’’ ujarnya saat wawancara khusus dengan Suara NTB di Mataram, Minggu (2/8).

Bagaimana tidak, banyak hal menjadi catatan yang parameternya adalah sebuah harapan bagaimana membangun demokrasi yang baik. Demokrasi yang bagaimana bisa menjadi sarana untuk membangun nilai-nilai kebaikan yang maslahat bagi masyarakat dan bukan yang membawa kemudaratan. Output yang diharapkan, kata H. Didi Sumardi, bagaimana terbangunnya suatu sistem demokrasi Pancasila yang berketuhanan, berkemanusiaan, berkerakyatan, berkeadilan dan juga memperkuat semangat persatuan.

Semua itu merupakan nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa dan negara kita. Sebagai refleksi, lanjut H. Didi Sumardi, apakah proses yang sudah dan sedang berjalan adalah sesuatu yang dapat mentransformasikan nilai-nilai positif dan edukatif kepada masyarakat. Pilkada sebagai sebuah sistem demokrasi harus dibangun di atas nilai-nilai tersebut secara rasional dan konstitusional.

Namun faktanya proses dan dinamika yang terjadi cenderung mencerminkan sesuatu yang tidak rasional. ‘’Tidak mungkin sistem berdemokrasi akan terbangun baik di atas ketidakrasionalan, prakmatisme dan hanya pada tataran membangun image secara kamuflatif,’’ tegas H. Didi Sumardi. Banyak hal yang kontradiktif dan kontraproduktif yang mengemuka dalam tataran wacana maupun langkah nyata. ‘’Kita bisa cermati bagaimana seorang yang memiliki tanggung jawab sebagai pembina politik daerah berpikir dan bertindak seperti apa,’’ imbuhnya.

Padahal, kata orang nomor satu di DPRD Kota Mataram ini, suksesnya Pilkada menjadi barometer kepemimpinan. ‘’Bagaimana logikanya Pilkada malah berkecenderungan gagal atau mundur dengan retorika konstitusi,’’ tegasnya. Belum lagi, kata H. Didi Sumardi, mencermati dinamika politik yang bukan lagi menjadi rahasia umum apa motif di balik itu. Dia melihat dengan  dinamika Pilkada yang kurang sehat, banyak diwarnai isu yang tidak sedap yang pada waktunya kalau semangatnya tidak sehat akan terbuka vulgar ke publik. Dan ini tidak bermanfaat malah justru berkontribusi negatif bagi terbangunnya sistem demokrasi yang buruk.


‘’Disisi lain pragmatisme politik tidak akan dapat mematangkan sistem demokrasi bahkan justru itu sifnya destruktif,’’ demikian H. Didi Sumardi. Adanya suatu sistem juga bagaimana menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan orang-orang yang baik, berkualitas, berintegritas dan  dicintai oleh masyarakatnya bisa dengan mudah untuk menduduki jabatan publik. Demiķian juga setelah berhasil memimpin dapat menjalankan dan mengakhiri tugas kepemimpinannya dengan baik. Tidak banyak yang dapat diharapkan dari praktik-praktik seperti ini.

H. Didi Sumardi berpendapat praktik menyesatkan tersebut tidak hanya sifatnya merusak dan merendahkan masyarakat tetapi juga masuk katagori kejahatan politik. Untuk dapat mewujudkan penyelenggaraan Pilkada yang baik sebagai bagian dari  sistem demokrasi, itu menjadi tanggung jawab semua pihak, khususnya para penyelenggara pemerintahan. Oleh karena itu, pihaknya akan terus berupaya untuk bagaimana institusi terkait dapat berfungsi secara proporsional. Hal ini perlu kerja keras, kegigihan dan komitmen semua pihak. ‘’Mari kita wujudkan Pilkada yang bermartabat yang berlandaskan pada nilai-nilai tersebut,’’ ajaknya.


H. Didi Sumardi meyakini bahwa  masyarakat sudah cerdas melihat dan mendengar atraksi politik yang dimainkan. ‘’Jangan dikira masyarakat tidak mencermati segala trik dan intrik politik yang dimainkan. Kami berkeyakinan masyarakat akan mengambil sikap pada waktunya sesuai dengan cara dan pilihannya menyikapi apa yang dipertontonkan di muka publik,’’ katanya. Karena bagaimanapun, menggapai sesuatu dengan tidak berkeringat, menghindari kompetisi dan memilih jalan instan merupakan bentuk pragmatis politik yang kontraproduktif dari semangat demokrasi. (fit)

Komentar