Jangan Ikut Campur Terlalu Jauh

ANGGOTA DPRD Kota Mataram, I Wayan Wardana, SH., menyayangkan adanya ‘’rong-rongan’’ dari pihak-pihak tertentu terhadap rencana maupun kebijakan Penjabat Walikota Mataram. Salah satunya soal kebijakan memangkas hari kerja ASN (Aparatur Sipil Negara) dari yang sebelumnya enam hari kerja menjadi lima hari kerja.

‘’Dari sisi efektivitas dan efisiensi baik penggunaan listrik dan lain-lain dapat ditekan seminimal mungkin,’’ ujarnya kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Rabu (9/9). Pemangkasan hari kerja ini, menurut Wardana juga menguntungkan ASN, karena mereka memiliki hari libur lebih panjang sehingga dapat memulihkan tenaga.

‘’Begitu masuk kerja Hari Senin mereka (ASN, red) sudah segar lagi,’’ cetusnya. Wardana mengaku tidak habis pikir mengapa kebijakan itu (lima hari kerja, red) yang dikritik oleh beberapa kalangan anggota Dewan. Apalagi sampai ingin mengadakan rapat paripurna untuk memutuskan mengikuti kebijakan Pemkot Mataram. Dewan, mestinya dapat membedakan mana yang menjadi domain Dewan maupun legislatif.

‘’Kalau kebijakan lima hari kerja itu kan memang domain eksekutif. Kita (Dewan, red) fokus saja pada tupoksi kita yang tiga itu, legislasi, budgeting dan controlling. Di sanalah kita manfaatkan tupoksi kita. Kalau memang nantinya lima hari kerja tidak sesuai harapan, kan nanti bisa kita evaluasi, bisa kita panggil,’’ tegas politisi PDIP ini. Dalam hal ini, eksekutif tidak perlu meminta izin dari dari Dewan.

Ia mengimbau kalangan Dewan untuk tidak terlalu jauh mencampuri secara teknis urusan eksekutif. Anggota Komisi II ini mengapresiasi dinamika yang berkembang terkait rencana maupun kebijakan Penjabat Walikota Mataram. ‘’Tapi kritik yang konstruktif. Jangan yang penting tentang, hadang. Masalah bagus atau tidak, tidak peduli. Apalagi misalnya sampai ada motif balas dendam,’’ imbuhnya.


Ia mengajak semua anggota Dewan untuk memantau apa yang menjadi program maupun kebijakan Pemkot Mataram. Apakah eksekutif mampu melaksanakan sesuai yang telah mereka rencanakan atau sebaliknya. Eksekutif, kata dia, tentu tidak akan gegabah dalam menelurkan sebuah kebijakan. ‘’Pasti kajiannya sudah cukup panjang,’’ tandasnya. Lain halnya kalau kebijakan lima hari kerja di Mataram merupakan yang pertama di Indonesia, mungkin masih masuk akal kalau diributkan. ‘’Justru akan menjadi aneh, kok kita (Mataram, red) sendiri yang masih enam hari kerja,’’ tandasnya. (fit)

Komentar