MESKIPUN
tahun ini angkot (angkutan kota) gagal menjadi angkutan khusus pelajar, namun
tahun depan peluang untuk itu masih ada. Karenanya, anggota DPRD Kota Mataram
Sang Ketut Deresta meminta pihak terkait dalam hal ini Dishubkominfo Kota
Mataram melakukan kajian ulang terhadap rencana itu.
‘’Perlu
kita memanggil orang tua murid, guru dan pihak-pihak terkait lainnya,’’ saran
politisi Hanura ini. Karena yang dikhawatirkan, ketika siswa tidak terangkut
oleh angkot itu, tentu orang tua akan menjadi cemas. ‘’Kan kalau diantar jemput
sudah pasti jam sekian,’’ katanya. Deresta mempertanyakan siapa yang akan
bertanggung jawab kalau siswa bersangkutan tidak pulang.
‘’Kalau
ada yang seperti itu apa angkotnya mau bertanggung jawab,’’ demikian Deresta. Selain kekhawatiran itu, jalur yang akan dilalui oleh angkutan
pelajar itu juga perlu dikaji secara komprehensif. Yang jelas semua rencana
tersebut harus dikaji baik buruknya. Toh,
lanjutnya, ketika angkot yang berhenti di sana kemacetan serupa juga diyakini
akan terjadi.
‘’Ketika
bemo kuning berderet menjemput, macet juga. Saya yakin itu,’’ kata Deresta. Memang
bisa jadi, mengubah angkot menjadi angkutan khusus pelajar sebagai solusi,
tetapi juga perlu dikaji. ‘’Ndak bisa
langsung,’’ cetusnya. Dishubkominfo dan juga Organda perlu bersama-sama
melakukan kajian, apakah rencana itu bisa berlanjut atau tidak.
Anggota
Dewan yang duduk di komisi yang membidangi masalah pendidikan ini mengatakan,
terkait rencana itu, Dishubkominfo diminta untuk mengikutsertakan Dewan dalam
mencari solusi yang tepat. Sebab, jangan sampai kebijakan menjadikan angkot
sebagai angkutan khusus pelajar, terkesan semena-mena. ‘’Semua angkot yang ada
di Kota Mataram kita pakai, kan tidak mungkin,’’ terangnya.
Karena
bagaimanapun, da hak publik untuk menggunakan angkot. Sebaliknya, ketika tidak
semua angkot dijadikan angkutan khusus pelajar, tentu akan menimbulkan
kecemburuan antar sesama pengusaha angkot. Kalau misalnya semua angkot
dimanfaatkan sebagai angkutan khusus pelajar, tentu harus dilakukan
penghitungan berapa jumlah angkot yang ada di Kota Mataram.
Perlu
dipikirkan juga dari awal, bagaimana anggaran operasional angkutan pelajar itu.
‘’Jangan-jangan nanti orang tua dikenakan lagi iuran,’’ katanya. (fit)
Komentar