Tinggal Tunggu Banjir

ANGGOTA Fraksi Demokrat DPRD Kota Mataram, Ehlas, SH., mengamini semakin tergerusnya lahan pertanian di Kota Mataram. Faktor dominan yang menyebabkan tegerusnya lahan pertanian di Kota Mataram, kata Ehlas, ‘’gampangnya’’ Pemkot Mataram memberikan izin untuk membangun. Sehingga alih fungsi lahan dari pertanian ke pembangunan fisik sulit terelakkan.

‘’Kalau memang mau dikembangkan, kenapa sasarannya selalu lahan pertanian. Lebih baik daerah-daerah pegunungan itu yang dikembangkan,’’ ucapnya. Pesatnya alih fungsi lahan pertanian, terutama untuk pembangunan perumahan, kata Ehlas, berdampak luas pada bidang pertanian.

Karena, pembangunan perumahan di Mataram membuat tidak sedikit irigasi pertanian hilang. ‘’Kalau begitu kan kita tinggal menunggu banjir saja,’’ kata anggota Dewan yang konsen terhadap persoalan pertanian di Kota Mataram. Ehlas menilai Pemkot Mataram belum serius melindungi lahan pertanian agar tidak semakin menyempit.

Bahkan, sambung Ehlas, Perwal lahan pertanian abadi yang telah diusulkan Dinas PKP (Pertanian Kelautan dan Perikanan) Kota Mataram, sampai sekarang tidak kunjung rampung. Mestinya kalau Pemkot Mataram serius, tentu Perwal Lahan Pertanian Abadi itu sudah bisa dilaksanakan.

Menurut Ehlas, di tingkat lisan, Pemkot Mataram memang ada keinginan melindungi lahan pertanian. ‘’Tapi kan nyatanya tidak dikerjakan,’’ sesalnya. Ia menduga, kondisi ini dibiarkan seperti sekarang lantaran Pemkot Mataram menganggap pertanian tidak menguntungkan dikembangkan di Kota Mataram.

‘’Ya bagaimana mau menguntungkan, harga beras saja di tingkat petani, tidak pernah naik,’’ keluhnya. Ehlas mengaku sepakat dengan langkah Penjabat Walikota Mataram untuk menyetop izin pembangunan rumah di lahan-lahan produktif. Ia berharap upaya menghentikan pembangunan perumahan berlanjut di masa-masa mendatang.

Sebab, ujar Ehlas, kalau Pemkot Mataram tidak berbuat dari sekarang, diprediksi 10 sampai 15 tahun ke depan, lahan pertanian di Mataram, akan habis. Anggota Dewan dari dapil Sekarbela ini menyebutkan, dalam setahun, lahan pertanian yang hilang sekitar 60 hektar per kelurahan. Kondisi ini, kanya, jelas harus disikapi serius.


Ehlas memandang pertanian harus tetap ada di Mataram. ‘’Memang bisa saja kita bergantung pada kabupaten lain, tapi kalau sewaktu-waktu terjadi gagal panen di kabupaten pemasok beras itu, bagaimana,’’ tanyanya. (fit)

Komentar