SIDAK
(inspeksi mendadak) yang dilakukan anggota DPR RI ke Pasar Mandalika mendapat
apresiasi dari Sekretaris Komisi II DPRD Kota Mataram yang juga mantan Ketua
Pansus PasarDPRD Kota Mataram, Drs. HM. Noer Ibrahim. Terkait kondisi pasar
yang kotor dan tidak rapi Noer berkilah bahwa di pasar induk tersebut terdapat
dua manajemen.
Yang
pertama adalah pasar yang dikelola oleh pemerintah dan yang kedua adalah pasar
swasta. ‘’Itu yang kita kritisi. Komisi II harus sidak lagi. Bagaimana
kewenangan antara pasar yang dikelola swasta dengan pasar yang dikelola
pemerintah,’’ ujarnya menjawab Suara NTB
di ruang kerjanya, Kamis (5/11).
Beberapa
waktu lalu, aku Noer Ibrahim, Pansus Pasar telah mengkritisi alasan dari pihak
pasar milik pemerintah. ‘’Itu sampahnya dari pasar swasta,’’ sebutnya. Apalagi,
sekarang sudah masuk anggaran Rp 7 miliar untuk pembangunan pasar Mandalika
yang akan dilaksanakan tahun 2016 mendatang. Terkait kondisi drainase Pasar
Mandalika yang dipenuhi sampah, politisi Golkar ini berencana akan melakukan
penyisiran.
Noer
Ibrahim mengaku setuju kalau penarikan retribusi pasar kepada para pedagang,
dikembalikan lagi untuk mengelola kebersihan pasar. Hanya saja, lanjutnya,
retribusi pasar itu tidak bisa dipotong oleh kepala pasar. ‘’Retribusi yang
dipungut itu, kita akan tekan kepala Koperindag untuk mengevaluasi dan
mengganggarkan kebersihan pasar,’’ pungkasnya.
Untuk
menjamin kebersihan pasar, anggarannya tidak bisa serta merta mengharapkan dari
retribusi pasar yang telah dipungut dari para pedagang. Dinas Koperindag Kota
Mataram, katanya, harus menganggarkan untuk kebersihan pasar. ‘’Tidak bisa
pasar itu menganggarkan biaya kebersihan. Kebersihan itu ditanggung oleh
masyarakat atau pedagang,’’ ucapnya.
Biaya
kebersihan yang dipungut dari para pedagang di luar retribusi yang harus
dibayar oleh para pedagang. Terhadap kondisi ini, Noer Ibrahim berjanji akan
turun ke lapangan. Salah satu penyebab pasar menjadi kotor, menurut dia, karena
kesadaran masyarakat yang masih minim. ‘’Petugas sudah maksimal memberikan
teguran, memberikan sanksi, masih saja kotor. Mungkin kita akan mengimbau
melalui pengeras suara agar lebih terdengar,’’ tandasnya. (fit)
Komentar