Rendah, Hasil ’’Assessment’’ Pejabat

Mataram (Suara NTB) -
Hasil assessment 33 pejabat lingkup Pemkot Mataram mengcengangkan. Nilai intelegensi mereka di bawah standar alias masih rendah.

Data hasil assessment dilakukan oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTB, tanggal 26 - 28 Oktober lalu. Setidaknya, dari 35 pejabat struktural eselon II yang hadir 33 pejabat. Kadis Pertamanan, HM. Kemal Islam dan Sekwan, Lalu Aria Dharma absen dengan alasan sakit dan tanpa keterangan. Nilai IQ dari 33 pejabat ini antara 80 - 91.

Nilai ini sangat rendah, sehingga tim assessment memberikan rekomendasi kepada semua pejabat struktural agar mendapatkan pendampingan dan konsultasi. IQ paling rendah diperoleh oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Chaerul Anwar dengan poin 80, sehingga dalam rekomendasinya diminta dilakukan konseling dan pendampingan. Disusul, Kepala BPMP2T, Cokorda Sudira Muliarsa, Kepala BPBD, H. Supardi, Direktur RSUD, dr. HL. Herman Maha Putra, Kepala Dikpora, H. Sudenom, Bakesbangpol, Rudi Suryawan, Kepala BPM, H. Syaiful Mukmin, Kadis Tatakota dan Pengawasan Bangunan, HL. Junaedi.

Kepala BPKAD, Yance Hendra Dirra, Kepala BKD, Hj. Dewi Mardiana Ariany, Kadiskoperindag, Wartan. Kadis PU, Ir. H. Mahmuddin Tura, Kadis PKP, H. Inspektorat, H. Makbul Ma'shum, Kepala BP2KB, Sutrisno, Kepala BLH, M. Saleh. Kepala Dispenda, HM. Syakirin Hukmi.

Kepala DPKP Ir. H. Muttawali, Kadisosnakertans, H. Ahsanul Khalik, Asisten I, Lalu Indra Bangsawan, Asisten II, Effendi Eko Saswito, Asisten III, Hj. Baiq Evi Ganevia dan para staf ahli. Secara keseluruhan nilai IQ mereka antara 81 - 89. Artinya, kompetensi bersangkut rendah dan sedang sehingga direkomendasikan dilakukan konseling dan pengarahan. Sementara, Kepala Bappeda, Lalu Martawang IQ 91. Namun, tim assessment merekomendasikan dilakukan monitoring untuk peningkatan kompentensi.

Menanggapi hal tersebut, Penjabat Walikota Mataram, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, M.Si., belum mengetahui hasil assessment. Jika hasilnya demikian, ada kemungkinan semua pejabat mengalami tekanan. "Mungkin mereka tertekan kali," jawab Selly.

Apakah hasil assessment ini mempengaruhi proses mutasi? Kalau hasilnya seperti itu kata Selly, bagaimana cara dilakukan pemetaan sementara IQ eselon II saja masih rendah.

Bukan Tolak Ukur
Meski demikian, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Muhtar, SH., mengingatkan Penjabat Walikota Mataram agar tidak semata-mata menjadikan assessment sebagai acuan melakukan mutasi.

‘’Jangan hanya dilihat dari hasil assessment saja, tapi lihat juga bagaimana kinerja pejabat bersangkutan,’’ pintanya. Menurut Muhtar, capaian PAD yang rendah di suatu SKPD bukan berarti pimpinan SKPD bersangkutan tidak berkompeten. Tinggi rendahnya capaian PAD tergantung kemauan dan niat.


‘’Saat assessment nilainya rendah, tetapi kinerjanya bagus, kenapa tidak, tetap dipakai, sambil terus dilakukan evaluasi,’’ saran politisi Gerindra ini. (cem/fit)

Komentar