Setuju Meterisasi

WAKIL Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Syamsul Bahri, SH., mengaku setuju dengan rencana Pemkot Mataram melalui Dinas Pertamanan Kota Mataram yang akan menggunakan sistem meterisasi untuk semua jaringan PJU (Penerangan Jalan Umum) di Kota Mataram. Penggunaan sistem meterisasi ini diharapkan dapat mengkonkretkan biaya ppembayaran PJU setiap bulannya.

Selama ini, akibat belum semua PJU menggunakan sistem meterisasi berdampak pada ketidakpastian nominal tagihan PJU bagi Kota Mataram. Kondisinya jelas merugikan Pemkot Mataram. Selain menerapkan sistem meterisasi, Dinas Pertamanan Kota Mataram harus memiliki standar yang jelas terkait penggunaan lampu. Baik dari segi daya lampu maupun jenis lampu.

‘’Berapa watt-nya dan apa jenis lampunya, itu harus jelas,’’ kata Syamsul menjawab Suara NTB di Mataram. Terkait PJU, ia menyarankan kepada Dinas Pertamanan Kota Mataram agar melakukan berbagai terobosan. Dinas Pertamanan harus rajin melihat kondisi di lapangan. Sebab, masyarakat sudah dikenakan pajak penerangan jalan umum setiap kali membayar rekening listrik.

Sehingga, lanjut politisi Nasdem ini, jangan sampai ada masyarakat yang tidak dapat menikmati fasilitas PJU. Pada bagian lain, Syamsul juga setuju dilakukannya penertiban PJU bodong oleh PLN. ‘’Tapi ini harus duduk dulu dengan eksekutif, supaya nantinya tidak ada kerancuan dalam pembayaran tagihan PJU,’’ pintanya.

Ia mengingatkan kepada PLN agar dalam melakukan penghitungan tagihan PJU di Kota Mataram, tidak sepihak. Sebab pada kasus sebelumnya, cerita Syamsul, PLN pernah menyatakan bahwa Dinas Pertamanan Kota Mataram menunggak pembayaran PJU. ‘’Ternyata belakangan diketahui bahwa Pertamanan tidak menunggak tetapi PLN yang salah hitung,’’ imbuhnya.


Syamsul meragukan pernyataan pihak PLN yang mengaku rugi sekitar Rp 2,5 miliar akibat pemasangan PJU bodong di perumahan yang ada di Kota Mataram. ‘’Saya pikir itu bukan rugi tapi kurang terobosan,’’ ucapnya. Apalagi sekarang, rata-rata konsumen PLN sudah menggunakan listrik prabayar. ‘’Listrik token (prabayar, red) itu kan keinginan PLN, bukan keinginan eksekutif, kenapa sekarang masih mengaku rugi. Mungkin kebanyakan duduk di belakang meja,’’ sindirnya. (fit)

Komentar