KONDISI
Jalan HOS Cokroaminoto, mulai dari perempatan Cemara hingga ke Rembiga, semakin
memprihatinkan. Padahal, setiap hari jalan provinsi itu dilalui kendaraan dari
berbagai daerah di Mataram, Lombok Barat dan juga Lombok Utara. Hal itu
dibenarkan oleh Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram, Ismul Hidayat.
‘’Pemkot Mataramdalam hal ini Dinas PU Kota Mataram tidak peka terhadap kondisi
jalan di kota,’’ sesalnya.
Walaupun
ruas jalan tersebut milik provinsi, bukan berarti Pemkot Mataram harus berdiam
diri. Pasalnya, provinsi begitu gencarnya membahas infrastruktur. Sayangnya,
akses yang sangat sentra seperti ruas Jalan HOS Cokroaminoto yang merupakan
penghubung antar daerah, tidak menjadi perhatian. ‘’Ini kan lucu,’’ cetusnya menjawab Suara
NTB Kamis (4/2).
Ismul
menyebutkan bahwa Jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Dr. Soetomo merupakan akses
jalan yang menghubungkan antara Kota Mataram dengan Kabupaten Lombok Barat dan
Kabupaten Lombok Utara. Anggota Dewan dari dapil Selaparang ini mengancam,
apabila ruas jalan tersebut tidak kunjung diperbaiki, maka ia tidak akan
melarang masyarakat yang bakal meluapkan kekecewaannya dengan cara menanam
pisang di jalan yang berlubang tersebut.
Di
satu sisi, Pemkot Mataram merevitalisasi jembatan gantung yang hajatnya dapat
dikunjungi masyarakat secara luas. Sebab, jembatan gantung merupakan salah satu
peninggalan bersejarah. ‘’Tapi di sisi lain akses jalannya tidak
diperhatikan,’’ aku Ismul. Ia melihat ada tumpang tindih SKPD dalam membangun
fasilitas untuk masyarakat.
‘’Pertamanan
membangun taman bagus-bagus tapi kalau akses jalan rusak, sama saja bohong,’’
keluhnya. Sebab, persoalan jalan rusak di HOS Cokroaminoto dan Dr. Soetomo
tidak akan selesai hanya dengan mengeluarkan pernyataan bahwa jalan itu milik
provinsi. Karena, kata politisi PKS ini, selama dua tahun terakhir ini, ia
tidak melihat adanya upaya konkret dari Dinas PU Kota Mataram untuk
mengkomunikasikan persoalan ini secara intensif dengan pihak provinsi.
Yang
ada adalah, Jalan HOS Cokroaminoto hingga Jalan Dr. Soetomo hanya tambal sulam.
‘’Ditambal, ndak sampai musim penghujan rusak lagi,’’ katanya. Apalagi musim
hujan seperti sekarang ini, lubang-lubang di jalan itu tertutup air sehingga
membahayakan pengguna jalan. (fit)
Komentar