| Abdul Malik |
ANGGOTA
Komisi II DPRD Kota Mataram, Abdul Malik, S.Sos., mengaku tidak setuju dengan
istilah orang miskin. Apalagi disebut-sebut Kecamatan Cakranegara merupakan
salah satu kecamatan dengan angka kemiskinan paling tinggi. Padahal, Kecamatan
Cakranegara bisa dikatakan sebagai barometer aktivitas ekonomi di Kota Mataram.
‘’Saya
lebih setuju kalau mereka disebut kekurangan ekonomi. Kalau yang namanya miskin
itu, mereka yang sama sekali tidak punya harta benda,’’ ujar Malik kepada Suara NTB di ruang kerjanya Rabu (13/4).
Penyebabnya, menurut dia, karena tingginya urbanisasi di Cakranegara. Karena
dominan mata pencaharian warga Cakranegara adalah berdagang, sehingga banyak
pendatang yang mengadu nasib di Mataram.
Lagipula,
lanjut Malik, mereka yang disebut miskin itu, tidak semuanya berasal dari Kota
Mataram. ‘’Saya pernah turun ke lapangan. Saya tanyakan ada orang yang
meminta-minta di Cakra, ternyata orang luar Mataram,’’ katanya. Anggota Dewan
dari daerah pemilihan Cakranegara ini mengaku heran kalau Disosnakertrans (Dinas
Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi) menyebut Cakranegara sebagai salah satu
kecamatan dengan angka kemiskinan tertinggi.
‘’Karena
Cakra ini kan jadi barometer ekonomi
di Mataram,’’ sebutnya. Mestinya, masyarakat yang didata sebagai orang miskin,
malu. Karena menurut Malik, kesempatan kerja di Kecamatan Cakranegara cukup
besar. Bermunculannya pusat perbelanjaan membuka peluang pekerjaan bagi
masyarakat. Peluang ini justru lebih besar dibandingkan lima kecamatan lainnya.
Malik
mempertanyakan parameter apa yang digunakan oleh pemerintah dalam menentukan
kategori miskin. ‘’Sementara saya lihat, orang yang disebut miskin ini, punya
kendaraan dan bisa mencicil kendaraan itu sebagai tukang ojek,’’ akunya. Meskipun
pendataan warga miskin yang dilakukan pemerintah sesuai nama dan alamat tempat
tinggal, tidak menjamin warga bersangkutan merupakan warga asli Mataram.
Bisa
jadi, mereka datang ke Mataram satu tahun kemudian membuat KTP Mataram. Diakui
Malik, memang selama ini, Pemkot Mataram intens memberikan bantuan kepada
masyarakat agar ke luar dari kemiskinan. Tetapi, politisi Golkar ini menilai
bahwa pemberian bantuan itu, tidak menyelesaikan masalah. ‘’Karena yang namanya
masyarakat, apapun kita bantu, mereka tetap akan merasa kekurangan,’’ demikian
Malik.
Apalagi
bantuan yang bersifat instan diperkirakan akan habis saat itu juga. Malik
menyarakan, memperbanyak penyediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Itu,
katanya, merupakan solusi yang pas untuk masalah kemiskinan di Mataram. (fit)
Komentar