Ubah ’’Mindset’’

Hj. Kartini Irwarni
ANGGOTA DPRD Kota Mataram, Hj. Kartini Irwarni, SPd., mempertanyakan masuknya Kecamatan Sandubaya dalam salah satu dari tiga kecamatan dengan angka kemiskinan tertinggi di Kota Mataram. Sebab kalau hanya dilihat dari kondisi rumah, rata-rata rumah warga di Kecamatan Sandubaya tidak ada yang terlalu memprihatinkan. ‘’Rumahnya sudah pakai keramik semua,’’ klaimnya.

Disamping itu, Sekretaris Komisi I DPRD Kota Mataram ini mempertanyakan parameter apa yang digunakan oleh Pemkot Mataram dalam menentukan warga yang masuk dalam kategori miskin. ‘’Kan tidak bisa hanya melihat kondisi rumah,’’ katanya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Selasa (12/4). Kartini tidak menyangkal bahwa yang namanya warga miskin pasti ada di semua kecamatan.

Kemiskinan ini, kata anggota DPRD Kota Mataram dari daerah pemilihan Sandubaya ini menjadi PR besar Pemkot Mataram. Pemkot Mataram, lanjut Kartini, harus punya terobosan bagaimana supaya angka kemiskinan ini trennya menurun. Termasuk angka kemiskinan di Kecamatan Sandubaya. ‘’Kami minta eksekutif, dalam hal ini SKPD menelaah apa pemicu tingginya angka kemiskinan ini,’’  ujar Kartini.

Politisi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ini menjelaskan, bahwa warga Sandubaya dominan bermatapencaharian sebagai pedagang dan buruh. ‘’Yang menjadi ASN, hanya sedikit,’’ imbuhnya. Menurut Kartini, apa yang disampaikan Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, bahwa salah satu pemicu bertambahnya angka kemiskinan adalah arus urbanisasi.

’Ya bisa jadi seperti itu. Karena Sandubaya ini kan berbatasan juga dengan kabupaten tetangga. Sehingga memang arus lalu lintas pendatang cukup tinggi,’’ katanya. Selain itu, jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja yang tersedia. Kartini mengapresiasi dorongan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh agar masyarakat menjadi wirausahawan.

Hanya saja, untuk mewujudkan hal itu tentu tidak bisa sebatas dorongan. Kartini memandang tawaran sejumlah bank dengan program KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga ringan bisa menjadi pintu masuk calon wirausahawan. Karena, katanya, untuk bisa menjadi wirausahawan, faktor modal menjadi penentu.

Kartini juga mengajak masyarakat untuk sama-sama mengubah mindset agar tidak terkesan ‘’senang’’ menjadi orang miskin karena mengharapkan adanya bantuan pemerintah. (fit)

Komentar