Anggaran Sangat Minim

Hj. Kartini Irwarni
PEMBAHASAN KUA PPAS (Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara) tahun 2017 diharapkan menjadi momentum meningkatkan anggaran bagi program pemberdayaan perempuan dan anak di Kota Mataram. Karena selama ini, kata Sekretaris Komisi I DPRD Kota Mataram, Hj. Kartini Irwarni, SPd., anggaran yang diberikan Pemkot Mataram untuk urusan perempuan dan anak di Mataram, sangat minim.

Kartini mencontohkan, pada tahun anggaran 2015 lalu, Pemkot Mataram memberikan anggaran hanya sekitar Rp 200 juta untuk program pemberdayaan perempuan dan anak. ‘’Itupun untuk penguatan kelembagaan,’’ cetusnya. Sehingga, di tahun 2017 nanti, diharapkan ada keberspihakan anggaran bagi program pemberdayaan perempuan dan anak.

Ini, lanjut Kartini, sejalan dengan keinginan kaukus perempuan yang menginginkan peningkatan anggaran untuk program perempuan dan anak. ‘’Jadi yang sekarang ini sangat minim,’’ sesalnya. Sebagai satu-satunya anggota Dewan perempuan yang duduk di Badan Anggaran DPRD Kota Mataram, politisi PKB ini berjanji akan tetap fokus memperjuangkan peningkatan anggaran bagi pemberdayaan perempuan dan anak.

Kartini menilai, untuk program pemberdayaan perempuan dan anak, paling tidak, Pemkot Mataram harus mengalokasikan Rp 1 miliar. ‘’Saya pikir itu nominal yang ideal,’’ sebutnya. Ia menyayangkan masih ada pihak-pihak yang memandang sebelah mata terhadap program pemberdayaan perempuan dan anak. Padahal, lanjutnya, pemberdayaan perempuan dan anak, juga berkaitan erat dengan persoalan lainnya. Seperti masalah kesehatan, agama dan kesejahteraan masyarakat.

‘’Ada yang berpikir, maju itu adalah masalah fisik, tetapi masalah mental tidak diperhatikan. Tidak pas kalau ada pemikiran seperti itu,’’ sesalnya. Dikatakan Kartini, pembangunan fisik memang penting, tetapi harus diimbangi pula dengan pembangunan mental masyarakat. Anggota dewan dari daerah pemilihan Sandubaya ini mengaku prihatin dengan kenyataan bahwa urusan perempuan dan anak di Kota Mataram, hampir dianggap tidak penting.


‘’Jadi pemerintah hanya ingin melihat jalan yang mulus, perumahan yang bagus. Itu yang dianggap sebagai kemajuan,’’ katanya. Padahal, tahun 2018 Mataram telah mencanangkan menuju Kota Layak Anak. Kondisi ini jelas bertentangan dengan keinginan Kota Mataram menjadi Kota Layak Anak. Kartini mengimbau, untuk program pemberdayaan perempuan dan anak jangan diberi sisa-sisa anggaran. Melainkan harus dialokasikan secara khusus dengan nominal yang ideal. (fit)

Komentar