Budpar Harus Peka

Fuad Sofian Bamasaq
KESEMRAWUTAN PKL (Pedagang Kreatif Lapangan) yang berjualan di anjungan eks Pelabuhan Ampenan atau yang biasa disebut dengan Pantai Ampenan ini, memunculkan keprihatinan dari kalangan DPRD Kota Mataram. Pasalnya, PKL tidak hanya berjualan di lapak-lapak yang disediakan Pemkot Mataram, tapi sudah mulai mendirikan lapak-lapak sendiri di sepanjang pantai itu.

‘’Seharusnya memang ada ketegasan dari Pemkot Mataram melalui kecamatan dan kelurahan dengan memanggil para PKL,’’ ujar anggota DPRD dari dapil Ampenan, Fuad Sofian Bamasaq, SH., menjawab Suara NTB kemarin. Pada waktu penentuan lokasi lapak, menggunakan sistem lot yang diundi. Sehingga seharusnya tidak ada lagi protes dari PKL, karena lapak itu merupakan pilihan mereka.

Fuad mengaku, tidak nyaman melihat PKL yang berjualan sana sini. ‘’Tapi itulah keadaan masyarakat kita. Apalagi pada waktu anomali cuaca, itu kasihan juga kita lihat,’’ katanya. Politisi PDI Perjuangan ini mengaku, sebagai wakil rakyat dihadapkan pada kondisi dilematis. Di satu sisi, masyarakat berjualan bukan pada tempat yang telah disediakan, tetapi di sisi lain, masyarakat yang berjualan di sana memang membutuhkan perekonomian yang lebih baik.

Kondisi itu diklaim Fuad sebagai akibat janji Pemkot Mataram yang tidak ditepati. ‘’Dulu janjinya pemerintah membuatkan lapak, tidak ada yang di depan dan tidak ada yang di belakang. Jadi semuanya berjualan di satu tempat secara merata,’’ ungkapnya.  Sehingga para PKL berlomba-lomba ingin mendapatkan lapak yang lokasinya paling dekat dengan pantai. ‘’Ini memang sudah keliru dari awal dan pemerintah sudah berjanji akan memperbaiki ulang,’’ imbuhnya.


Sedangkan terkait toilet umum di Pantai Ampenan, katanya, tidak ada yang mengelola. Fuad tidak setuju kalau pengunjung yang membutuhkan toilet harus memanfaatkan toilet yang ada di musala. Anggota Komisi I DPRD Kota Mataram ini menyarankan Pemkot Mataram melalui Dinas Budpar (Kebudayaan dan Pariwisata) agar lebih peka dengan keadaan ini. Pemkot seharusnya membangun toilet khusus untuk pengunjung dan dikelola secara profesional. ‘’Kalau yang namanya objek wisata, tidak cocok toiletnya digabung dengan yang ada di musala,’’ tegasnya. (fit)

Komentar