Harus Ada Solusi Terencana

DIBALIK suksesnya pembangunan di Kota Mataram, Pemkot masih memiliki PR (pekerjaan Rumah) yang hingga kini belum mampu diselesaikan oleh pasangan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh dan wakilnya, H. Mohan Roliskana. PR itu adalah banjir dan genangan. Hampir pada setiap musim hujan, sejumlah kawasan di Mataram tergenang bahkan terendam banjir.

Seperti yang terjadi Sabtu lalu, ketika hujan turun sejak pagi hingga sore hari, banyak kelurahan menjadi korban. Meskipun nampaknya warga Mataram sudah mulai akrab dengan genangan maupun banjir, tetap saja hal itu sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mataram, Ir. Amiruddin, M.Si., menyarankan, agar kota ini tak menjadi langganan banjir maupun genangan tiap musim hujan, maka perlu dibuat desain rencana induk (grand design) penanganan banjir. Desain perencanaan ini juga diperlukan untuk jangka panjang, sehingga pada puluhan tahun ke depan, banjir dapat diantisipasi.

Pemkot Mataram perlu segera memetakan lokasi-lokasi atau daerah rawan tergenang. Dengan demikian dapat dicarikan solusi terencana. Solusi terencana inilah yang dimaksudkan sebagai desain induk penanganan banjir. Pembuatan desain induk ini juga harus segera dilaksanakan mengingat tiap tahun genangan maupun banjir selalu melanda beberapa wilayah Mataram.

Sebagai ibukota provinsi, jika terjadi banjir, maka aktivitas perekonomian masyarakat tentu akan terganggu. Amiruddin memberikan saran jangka pendek, dimana Pemkot Mataram perlu segera melakukan penataan kembali terhadap saluran-saluran yang ada di Mataram. karena, tidak sedikit saluran yang ditutup secara permanen oleh pemilik bangunan. Kondisi ini, kata Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, I Gede Wiska, SPt., juga diperparah oleh kondisi hulu sungai-sungai yang ada di Mataram.

Katanya, banyak warga yang berada di hulu membuang sampah ke sungai. Sementara kondisi drainase di Kota Mataram tidak prima. Selain dangkal, drainase banyak yang rusak. Sayangnya, meski banjir dan genangan terjadi setiap saat di Mataram, tetapi penanganannya, khususnya dalam hal pembangunan drainase, belum menjadi prioritas. Pasalnya, untuk pembangunan drainase, Pemkot Mataram masih banyak bergantung kepada pemerintah pusat.

Tahun 2016 misalnya, Pemkot Mataram hanya kebagian anggaran cukup besar yang bersumber dari DAK (Dana Alokasi Khusus) dan DAU (Dana Alokasi Umum) untuk pembangunan jalan lingkungan dan jalan-jalan lainnya. Tidak heran kalau sekarang kondisi jalan di Mataram sudah mulus. Ini tentu tidak terlepas dari lobi-lobi yang telah dilakukan Pemkot Mataram. Untuk itu, tahun 2017 mendatang, Pemkot Mataram diharapkan melakukan langkah serupa untuk memperjuangkan dana pembangunan drainase di Mataram yang kabarnya membutuhkan anggaran puluhan bahkan ratusan miliar.


Namun upaya itu tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sehingga, selain penanganan jangka panjang, Pemkot Mataram juga perlu memikirkan solusi jangka pendek. Seperti normalisasi saluran drainase. Pemkot Mataram harus melibatkan masyarakat dalam penanganan banjir. Masyarakat harus lebih sering diajak bergotong royong. Paling tidak, untuk membersihkan saluran yang ada di sekitar lingkungan mereka. (*)

Komentar