Harus Dibarengi dengan Pengawasan

Parhan
ANGGOTA Komisi I DPRD Kota Mataram, Parhan, SH., menyayangkan kembali maraknya transaksi prostitusi di Pasar Panglima Kota Mataram. Pasalnya, pada zaman pemerintahan Penjabat Walikota Mataram, Dra. Hj. Putu Selly Andayani, oknum pemilik rumah yang menyediakan rumahnya sebagai tempat transaksi seks, telah diminta menutup aktivitas mereka.

Itu ditandai dengan pemberian dana kompensasi kepada oknum pemilik rumah. Memang, satu dua bulan Pasar Panglima sepi dari aktivitas prostitusi. Sayangnya, belakangan ini, transaksi seks di sana diduga kembali terjadi. ‘’Bisa dibilang, itu sudah menjadi tempat mereka dari dulu. Sehingga kalau tidak diawasi, sulit mengharapkan Pasar Panglima bisa benar-benar steril dari aktivitas prostitusi,’’ ujarnya menjawab Suara NTB di Mataram, Kamis (8/12).

Sebab, menurut Parhan, kalau hanya mengharapkan kesadaran dari pelaku prostitusi, jelas hasilnya tidak akan sesuai harapan. Terkait persoalan ini, paling tidak harus ada ketegasan dari pihak eksekutif. ‘’Jangan kemarin sudah diberi kompensasi, tetapi setelah kompensasinya habis, ya mereka akan balik lagi,’’ sesalnya. Politisi PKS ini menegaskan bahwa pemberian kompensasi itu mestinya dibarengi dengan pengawasan dari semua pihak.

‘’Ini tidak bisa setelah kita beri kompensasi lantas sadar. Inikan watak-watak sulit. Sehingga kalau tidak ada pengawasan, jelas tidak bisa,’’ pungkasnya. Parhan menduga, kembalinya aktivitas prostitusi di Pasar panglima pada malam hari, tidak terlepas dari sikap oknum pemilik rumah yang masih saja memberikan mereka ruang. ‘’Kalau mereka tidak menyediakan tempat kan tidak bisa,’’ cetusnya.

Di situlah dibutuhkan pengawasan dari semua pihak. Dikatakan Parhan, pengawasan terhadap praktik prostitusi di sana tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada Satpol PP. Tetapi, harus ada koordinasi yang baik antara Satpol PP Kota Mataram, pihak kelurahan, lingkungan dan lain sebagainya. Parhan menuding oknum pemilik rumah yang dulunya telah mendapatkan kompensasi dari Pemkot Mataram, telah ingkar dengan janji mereka untuk tidak lagi menyediakan tempat bagi para penjaja seks.

Parhan menyebut dana kompensasi yang diberikan pemerintah kepada oknum pemilik rumah, sia-sia. Ia menyarankan dibentuknya tim terpadu yang beranggotakan lintas instansi guna dilakukan pengawasan maksimal di sana. (fit)


Komentar