Keterlambatan Jangan Jadi Tradisi

Ketut Sugiarta
ANGGOTA Komisi III DPRD Kota Mataram, Drs. Ketut Sugiarta mengkritisi proyek jalan senilai Rp 99 miliar yang hingga kini belum dikerjakan. ‘’Kalau kondisi cuaca baik, ya tidak apa-apa, tapi karena hujan, jadi meragukan,’’ ujarnya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Senin (31/10) kemarin. Sehingga dengan kondisi seperti sekarang ini, rekanan harus bekerja ekstra.

‘’Kita buktikan nanti apa bisa maksimal. Kita sebagai dewan, controlling pada hasilnya nanti,’’ imbuhnya. Kecuali kalau pengerjaan jalan itu dengan pola hotmix, kemungkinan tidak akan ada masalah. ‘’Kalau hotmix ini kan langsung kering,’’ cetusnya. Ketut Sugiarta menyesalkan masih adanya kesan proyek dikerjakan di penghujung tahun anggaran.

‘’Tradisi’’ semacam itu, lanjut Ketua Fraksi Gerindra ini, sebetulnya perlu diubah. Ketut Sugiarta mencontohkan manajemen pengeluaran sebagian dana yang diatur sedemikian rupa. Seharusnya, manakala ada anggaran, program harus langsung dikerjakan. ‘’Kemarin kan ada istilahnya manajemen kas, yang pengeluaran anggaran diatur secara bertahap. Padahal dengan kondisi fiskal pusat tidak memenuhi target, kan ada pengurangan DAU. Akhirnya kan itu mengganggu,’’ terangnya.

Karena kondisi keuangan Kota Mataram tidak berlebihan, sehingga seharusnya program harus langsung dikerjakan. Ketut Sugiarta mengatakan, manajemen kas memang perlu, tetapi benefit yang diperoleh dari deposito anggaran pemerintah, harus dicompare kalau pekerjaan dilaksanakan lebih awal. ‘’Kecuali benefitnya tinggi sekali, bisa digunakan untuk mengerjakan satu proyek lagi, itu saya pikir kalau hitung-hitungan ekonomi wajar,’’ katanya.

Tetapi, ia mengingatkan, bahwa konteks pemerintah dalam hal ini adalah pelayanan, bukan mencari benefit atau keuntungan. Kalaupun pihannya tetap mendepositokan anggaran, dia mengingatkan, hitung-hitungannya harus matang. Menurut Ketut Sugiarta, ‘’tradisi’’ mengerjakan proyek di penghujung tahun anggaran, bisa jadi ada korelasinya dengan manajemen cash flow dengan pola deposito.


Seharusnya, sebelum mendepositokan anggaran tersebut di bank, perlu dipikirkan pula bagaimana pelayanan terhadap masyarakat. ‘’Mana yang lebih utama. Kalau yang lebih utama adalah pelayanan kepada masyarakat, ya jangan dideposito,’’ pungkasnya. Ke depan, ia berharap, keterlambatan pengerjaan proyek tidak lagi terjadi. (fit)

Komentar