| Abdul Malik |
ANGGOTA
Komisi II DPRD Kota Mataram, Abdul Malik, S.Sos., mengapresiasi langkah Pemkot
Mataram yang memberlakukan tapping box
untuk menekan kebocoran PAD (Pendapatan Asli Daerah). Ia mengakui, pemasangan tapping box di 10 hotel di Mataram, belum sesuai harapan. Pasalnya,
kalangan Dewan berharap semua hotel di Mataram dilengkapi dengan tapping box itu.
Mantan
karyawan bank ini menyarankan, untuk di hotel - hotel yang tidak terpasang
tapping box, agar dilakukan uji petik oleh Dispenda Kota Mataram. Karena ada
kesan bahwa hotel-hotel dengan kelas menengah ke bawah, kurang transparan
terhadap tingkat hunian mereka. ''Uji Petik dan evaluasi lah, bagaimana tingkat hunian mereka. Kan kita banyak sekali event event nasional tahun ini,'' ujarnya. Yang
terbaru adalah event TTG (Teknologi
Tepat Guna). Dengan event event ini,
Pemkot Mataram bisa merasiokan berapa tamu yang datang ke Mataram.
Malik
mencontohkan, peserta TTG di Mataram mencapai 3.000 orang. Dia mengkalkulasi,
kalau 30 persen menginap di Mataram, maka jumlah tamu yang menyumbang pajak
hotel sekitar 1.200 orang. Belum lagi tamu yang menggunakan fasilitas lain di
luar kamar hotel. Politisi Partai Golkar ini menganggap pemberlakuan tapping box cukup efektif. Ini sudah
dibuktikan oleh sejumlah daerah yang telah lebih dulu memberlakukan itu.
Seperti Kabupaten Badung, Bali dan juga Kota Bandung.
Di
dua daerah yang pernah dikunjungi Komisi II DPRD Kota Mataram, menunjukkan tren
peningkatan PAD yang cukup signifikan dari sektor jasa. Malik berharap, ke
depan, tidak hanya 10 hotel itu yang dipasangi tapping box, tapi juga semua hotel yang ada di Mataram. ‘’Kalau di
Daerah Bandung itu, mereka setengahnya APBD, setengahnya dari CSR,’’ katanya. Tapi
di Mataram, tentu anggaran yang dibutuhkan tidak sebesar di bandung. Karena,
jumlah hotel di Mataram tidak sebanyak di Bandung. (fit)
Komentar