| I Gede Wiska |
‘’Kalau
saya lihat memang kemarin, air besar dari timur. Artinya kemarin kita lihat
bahwa debit air yang masuk ke Unus sangat tinggi sekali,’’ ujarnya kepada Suara NTB di Mataram, Kamis (15/12). Kondisi
ini diperparah dengan terjadinya penyempitan di daerah hilir ditambah dengan
tidak terkontrolnya bangunan yang melintasi pinggiran sungai berikut sedimentasi
yang menumpuk, sehingga mencapai puncaknya Rabu sore kemarin. Persoalan yang
menyebabkan banjir, tidak sama di semua kelurahan yang menjadi korban banjir
kemarin.
Dalam
penanganannya memang harus melibatkan semua pihak. Baik Pemkot Mataram, Balai
Wilayah Sungai maupun Pemprov NTB diharapkan dapat berjibaku melakukan
normalisasi sungai dan saluran yang ada di Kota Mataram. ‘’Sungainya mungkin
perlu dilakukan normalisasi atau perlu dibuatkan sodetan-sodetan,’’ ujarnya.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini mengatakan, idealnya memang harus ada solusi
konkret dari semua pihak.
Solusi
penanganan banjir tidak bisa serta merta hanya dibebankan kepada Pemkot
Mataram. Wiska mengatakan, solusi atas persoalan banjir di Mataram harus cepat
dilakukan. Paling tidak, solusi jangka pendek seperti normalisasi, ataupun
membuat tanggul. Karena seperti diketahui, akibat banjir kemarin, sejumlah
tanggul di Kota Mataram, jebol. Pihaknya, lanjut Wiska, meragukan pernyataan
Kepala Dinas PU Kota Mataram beberapa waku lalu yang menyatakan bahwa titik
gennagan di Kota mataram, sudah berkurang.
Bahkan,
rencananya, Senin (19/12) komisi yang membidangi masalah pembangunan ini, akan
memanggil Kepala Dinas PU Kota Mataram. ‘’Jalan-jalan semua jadi sungai
kemarin,’’ sesalnya. Wiska tidak setuju kalau banjir parah kemarin
dikategorikan dalam siklus lima tahunan. ‘’Ini bukan lagi siklus lima tahunan.
Ini terjadi setiap tahun,’’ pungkasnya. Apalagi sekarang perubahan musim tidak
bisa diprediksi. (fit)
Komentar