Jaga Keseimbangan Lingkungan

BANJIR yang terjadi di kawasan Lingkar Selatan Kota Mataram baru-baru ini, harus betul-betul menjadi pelajaran bagi Pemkot Mataram. Pemkot Mataram sepertinya baru tersadar bahwa ada yang belum beres dengan kondisi drainase di Lingkungan Mapak Indah itu. Ketika hujan turun selama tiga hari berturut-turut, warga Lingkungan Mapak terpaksa mengungsi ke rumah sanak famili mereka. Itu karena, rumah tempat tinggal mereka terendam. Bahkan warga harus menyelamatkan barang-barang berharga milik mereka.

Warga terdampak banjir memang mengapresiasi langkah cepat Wakil walikota Mataram, H. Mohan Roliskana yang memerintahkan pembongkaran saluran drainase. Saluran drainase di Mapak Indah dinilai terlalu sempit untuk dapat menampung air hujan. Akibatnya, air hujan bukannya mengalir ke laut, tapi justru menggenangi rumah warga di lingkungan tersebut. Semestinya, saluran di sana lebih lebar sehingga air yang melewati saluran itu bias langsung lolos ke laut.

Penyempitan saluran ini, harus diakui, salah satu penyebabnya adalah maraknya pembangunan perumahan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Setelah kawasan tengah kota tidak memungkinkan lagi untuk dikembangkan, lebih-lebih untuk perumahan, para pengembang mulai membidik kawasan lingkar selatan dan lingkar utara Kota Mataram. Sejauh ini, antara kawasan utara dan selatan, para pengembang lebih tertarik berinvestasi dalam bidang property di kawasan lingkar selatan.

Apalagi Pemkot Mataram telah menegaskan arah pembangunan Kota Mataram adalah ke bagian selatan. Sehingga sekarang sejumlah kantor sudah dibangun di jalan Dr. Soedjono lingkar selatan Kota Mataram. Tidak heran, sekarang banyak perumahan bermunculan di kawasan lingkar selatan. Sayangnya, para pengembang terkesan cuek dengan kondisi lingkungan.

Dengan makin menjamurnya perumahan di sana, tidak ada penambahan dimensi saluran. Sehingga kondisi saluran di Mapak, tidak hanya sempit tapi juga dangkal. Meskipun warga salut atas respon cepat Pemkot Mataram yang membongkar berikut mengeruk saluran drainase di sana, namun itu bukan solusi jangka panjang. Warga berharap ada solusi permanen atas persoalan yang terjadi setiap tahun itu.

Lalu, munculnya komitmen Pemkot Mataram seperti disampaikan Wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana bahwa penanganan banjir menjadi prioritas tahun ini, juga perlu dipertanyakan darimana anggarannya. Karena kalau mengandalkan APBD Kota Mataram, sepertinya tidak mungkin. Karena konsep penanganan banjir seperti diungkapkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Ir. H. Mahmuddin Tura, ada dua cara. Pertama membuat saluran besar yang langsung tembus ke laut. Kedua, membeli alat penyedot sedimen.


Penanganan banjir yang disebut menjadi prioritas tahun ini, akan menjadi bias karena APBD telah diketok. Apalagi, katanya, Pemkot Mataram akan menggandeng sejumlah pihak untuk dapat mewujudkan pembangunan saluran yang bermuara ke laut. Diantaranya Pemprov NTB, Balai Jalan Nasional dan Balai Wilayah Sungai. Namun, langkah ini nampaknya akan memakan waktu lama. Sehingga kalangan DPRD Kota Mataram juga mendorong Pemkot mataram melakukan lobi-lobi kepada Pemerintah Pusat dengan harapan pusat dapat membantu Kota Mataram. (*)

Komentar