Seleksi JPTP Harus Transparan

SELEKSI JPTP (Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama) lingkup Pemkot Mataram, nampak lesu. Dari 10 jabatan yang dilelang, hanya dua jabatan yang pelamarnya memenuhi kuota. Dua jabatan itu adalah Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM serta jabatan Kepala Dinas Perikanan. Posisi Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM ini dilamar oleh lima orang. Masing-masing Drs. I Made Swatika Negara, H. Mahsin, Drs. Johan, I Putu Juniarta dan Ir. H. Ikhsan. Dengan jumlah pelamar sama, jabatan Kepala Dinas Perikanan Kota Mataram mencukupi kouta minimal. Pelamarnya adalah Dra. Ririn Yuniarti, Hj. Baiq Sujihartini, Ir. Misbah, Ir. Trijoko Purnomo Handoko dan Drh. Diyan Riatmoko.

Sedangkan delapan jabatan lainnya, sampai saat ini masih sepi peminat. Delapan jabatan itu, jabatan Kepala Dinas Perdagangan, Staf Ahli Bidang Perekonomian, Keuangan dan Pembangunan, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kepala Dinas Pemuda dan Olaraga, Kepala Dinas Lingkungan Hidup serta Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Selasa (31/1) siang, panitia seleksi JPTP Kota Mataram resmi menutup pendaftaran. Tujuh dari sepuluh formasi tak memenuhi kouta. Sehingga, pansel kembali memperpanjang pendaftaran hingga tujuh hari. Karena tak ada pelamar, Sekda Kota Mataram selaku Ketua Pansel JPTP, Ir. H. Effendi Eko Saswito didampingi Asisten III Setda Kota Mataram, Dra. Hj. Baiq Evi Ganevia, Ketua Sekretariat Pansel, Taufik Priyono dan dua anggota pansel lainnya,  Dr. Iwan Harsono dan Drs. H. Djaswad, SH., sekitar pukul 14.00 Wita, Minggu (5/2), resmi menutup perpanjangan pendaftaran.

Dari 46 pejabat yang telah mengambil formulir tahap pertama, hanya 31 orang yang menyerahkan dokumen persyaratan. Itupun, empat diantaranya terpental karena tak memenuhi persyaratan. Sehingga, menambah daftar kekurangan kouta pada salah satu formasi.

Saat perpanjangan pendaftaran, pansel mengirim surat edaran ke empat kabupaten yaitu Pemkab Lobar, Pemkab Loteng, Pemkab Lotim dan Pemkab Lombok Utara. Termasuk mengirimkan edaran ke SKPD di internal Pemkot Mataram. Satu pejabat Pemprov, Lalu Irfan merupakan Kepala Bagian Bina Pertanahan Setda Pempov NTB, mengambil formulir. Nyatanya, hingga batas pendaftaran tak kunjung mendaftar

Beragam spekulasi muncul atas kondisi tersebut. Ada yang menilai, minimnya minat pejabat mengikuti seleksi JPTP karena delapan jabatan itu sudah ada yang ‘’punya’’. Para pejabatpun menganggap, seleksi JPTP hanya proses formalitas. Meskipun Pemkot Mataram telah membentuk panitia seleksi yang diketuai oleh Sekda Kota Mataram. Pendapat berbeda diungkapkan pengamat pemerintahan, Darmansyah. Pengamat justru menyebut bahwa Mataram masih kekurangan SDM.

Itu diukur dengan mengasumsikan satu jabatan minimal empat pelamar yang lolos seleksi untuk bias mengikuti tes. Namun penilaian pengamat ini dibantah oleh Ketua Sekretariat Pansel JPTP Kota Mataram, Taufik Priyono. Sepinya pelamar delapan jabatan itu, bukan karena minimnya ketersedian SDM. Dia justru menganggap pejabat Pemkot Mataram kurang pede sehingga tidak mau ikut seleksi.


Untuk menjawab spekulasi itu, Pansel harus betul-betul menunjukkan kinerja yang jujus dan transparan. Jangan sampai apa yang menjadi penilaian-penilaian seputar seleksi JPTP itu menjadi benar akibat proses yang tidak transparan. (*)

Komentar