Bukan karena Permainan Harga

HM. Noer Ibrahim
SEKRETARIS Komisi II DPRD Kota Mataram, H. Noer Ibrahim menyayangkan meroketnya harga cabai di Mataram. Namun dia tidak setuju jika mahalnya harga cabai ini disebut karena adanya permainan harga. Pedagang cabai tidak bisa dilarang untuk tidak menaikkan harga karena memang mereka mengambil stok cabai dari luar Kota Mataram. Seperti Lombok Timur maupun Bali. Sehingga wajar kalau kemudian harga cabai menjadi mahal. ''Kepala Dinas Pertanian harus cerdas itu. Jangan dia berasumsi karena permainan harga,'' katanya kepada Suara NTB di Mataram, Jumat (10/3).

Noer Ibrahim menyarankan harus ada kantong - kantong petani cabai di Mataram. Sehingga paling tidak dapat mengendalikan harga. Meroketnya harga cabai, salah satunya, lanjut Noer Ibrahim dipengaruhi oleh cara Dinas Pertanian mengelola sektor pertanian. Apalagi tahun 2016 lalu, Pemkot Mataram mendapatkan bantuan bibit cabai dari pemerintah pusat senilai Rp 2,8 miliar. ''Nah itu kemana penyalurannya,'' tanya Noer Ibrahim.

Seharusnya Distan Kota Mataram selektif dalam menyalurkan bantuan bibit cabai itu. Harus dipilih kelompok petani yang mampu mengembangkan tanaman cabai. Karena, lanjut politisi Golkar ini, cabai tidak sama perlakuan penanamannya dengan jenis tanaman lainnya. Cabai membutuhkan penanganan khusus. Misalnya diberi atap penyaring panas pada siang hari dan penyaring embun pada malam hari. Daerah lain yang mengembangkan tanaman cabai sudah lebih dulu melakukan hal itu.

Kalau kemudian bantuan bibit cabai itu menjadi masalah, Noer Ibrahim menyebutkan bahwa pihak yang paling bertanggung jawab adalah Distan Kota Mataram berikut para PPL (Petugas Penyuluh Lapangan). Terhadap bantuan bibit cabai tahun 2017 ini, ia menyarankan agar dilakukan pemetaan titik tanam. Di masing-masing kelurahan atau kecamatan yang menjadi sasaran penanaman cabai itu harus ada pilot project. Karena belum tentu semua lahan cocok ditanami cabai.

''Seperti saya di Batu Dawa itu tanam cabai 15 are tidak bisa hidup. Mati dia karena faktor cuaca, jadi rugi saya,'' akunya. Untuk itu, sambung Noer Ibrahim, ketika Distan Kota Mataram telah menggulirkan bantuan bibit cabai, harus dilakukan pemantauan di lapangan. ''Jangan asal tanam saja,'' pintanya. Seharusnya, pendistribusian bantuan bibit cabai harus melalui perencanaan yang matang. Mulai dari menyiapkan lahan yang ada menjadi pilot project disusul dengan anggaran dan fasilitas penunjang lainnya. Sehingga bisa diharapkan hasilnya.


Agar bantuan bibit cabai itu mampu memberi dampak terhadap turunnya harga cabai lokal di pasaran, anggota dewan dari dapil Mataram - Sekarbela ini mengharapkan Distan Kota Mataram lebih intens melakukan pembinaan kepada para PPL. ''PPL harus bertanggung jawab terhadap bantuan yang telah digelontorkan, jangan dimainkan,'' sindirnya. (fit) 

Komentar