Lemah Suguhkan Data

Pembangunan di Mataram Tidak Merata

Mataram (Suara NTB) –
Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram Ismul Hidayat menyambut baik hadirnya program Kotaku. Meskipun menurut dia, Kotaku itu bukanlah program baru. ‘’Dulu kita kenal melalui BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat), sekarang namanya baru tapi tujuannya tetap sama,’’ ujarnya kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Rabu (2/3).

Untuk itu, Ismul mengingatkan agar Pemkot Mataram tidak lemah dalam menyuguhkan data. Misalnya pembangunan jalan pinggir kali. ‘’Kalau kita pakai kacamata APBD memang kita maklum, kita punya dana terbatas. Tetapi ketika tidak ada upaya terhadap lobi maupun jemput bola ke pusat atau BWS, Pemkot Mataram hanya akan mendapatkan ‘’jatah’’ sedikit,’’ sesalnya.

Komisi III, akunya, mencoba melakukan komunikasi ke BWS. Diperoleh jawaban ternyata dana itu cukup besar. ‘’Jangan kami hanya disuguhkan data yang itu-itu saja,’’ cetus Ismul menirukan jawaban pihak BWS. Artinya, konsep pembangunan di eksekutif jangan hanya melihat pada satu sudut saja. Karena bagaimanapun, pembangunan itu harus merata.

‘’Saya langsung singgung, jangan hanya Dasan Agung ke Barat pembangunan itu,’’ sindirnya. Dengan begitu, persoalan dikesankan hanya ada di Dasan Agung. Di bagian hulu justru kurang diperhatikan. Karena berbicara masalah sungai, kalau tidak dibangun dari hulu, bagian hilir tetap jelek. Sehingga menurut dia, harus ada konsep pembangunan yang berkesinambungan.

Evaluasi komisi III dari hasil rapat kerja dengan Dinas PUPR, sambung politisi PKS ini, kelihatan bahwa pembangunan di Mataram, perencanaannya kurang baik. Beberapa anggota Komisi III justru mempermasalahkan pembangunan yang meninggalkan dampak. Ia mencontohkan pembangunan trotoar dengan batu sikat di Karang Taliwang. Tetapi ketika musim hujan, air tertahan tidak masuk ke drainase. Sehingga menggenangi pemukiman masyarakat di Kelurahan Monjok tepatnya yang berada di Jalan Panda I. ‘’Di reses saya muncul keluhan seperti itu,’’ katanya.

Terkait program Kotaku, informasi yang diterima Komisi III, kata anggota Dewan dari dapil Selaparang itu, bahwa Mataram merupakan salah satu dari 60 kota yang menjadi prioritas penanganan pemukiman dan rumah kumuh. Namun program itu harus melalui Satker (satuan kerja). ‘’Nah ini, apakah dua program berbeda atau satu yang justru saya melihat jangan tumpang tindih. Kalau Kotaku secara umum, kalau dari Satker, yang kita dapat informasi, memang sudah jelas,’’ terangnya.

Sehingga, apa yang dikhawatirkan wakil Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, bahwa itu akan menjadi janji manis, tidak akan terjadi. Artinya, ketika dilakukan pendataan, masyarakat sudah tahu item pendataan. ‘’Apakah yang didata rumahnya atau jalan lingkungannya. Kemudian tidak dieksekusi. Ini kemudian menjadi permasalahan di bawah,’’ imbuhnya.

Sebetulnya program fisik yang menjadi perhatian pemerintah itu sangat baik. Hanya saja, untuk program fisik, hampir semuanya diambil oleh pemerintah pusat. Seperti pengaspalan jalan. Yang menjadi catatan bagi Pemkot Mataram, karena pembangunan fisik sudah clear oleh pemerintah pusat, daerah harus pro aktif. Demikian pula pemerintah pusat diharapkan tidak menunggu. (fit)


Komentar