Memberatkan Masyarakat

HM. Noer Ibrahim
SEKRETARIS Komisi II DPRD Kota Mataram, Drs. HM. Noer Ibrahim mengaku kaget dengan kebijakan pemerintah pusaj yang akan mencabut subsidi elpiji 3 kilogram bagi masyarakat umum. Seperti diketahui, ke depan yang boleh membeli elpiji 3 kilogram dengan harga Rp 15 ribu, hanyalah warga miskin. Di luar itu, elpiji 3 kilogram harganya akan ditetapkan sama rata, yakni Rp 30 ribu. Distribusi elpiji bersubsidi bagi warga miskin ini, akan dilakukan secara tertutup.

"Terlalu cepat kalau memang dikenakan sekarang," katanya kepada Suara NTB di DPRD Kota Mataram, Rabu (22/3). Paling tidak kalau pemerintah ingin menaikkan harga elpiji bagi masyarakat umum, maka hal itu harus disosialisasikan sejak awal. Sosialisasi minimal tiga sampai empat bulan baru kemudian diberlakukan. Noer Ibrahim mengusulkan agar pemberlakuan kebijakan mengenai pencabutan subsidi tersebut, tidak dilaksanakan dalam tahun ini.

Politisi Golkar ini lebih setuju kalau kebijakan itu mulai diberlakukan tahun depan. Tahun ini, pemerintah diminta memaksimalkan sosialisasi kepada masyarakat. Karena kalau pencabutan subsidi elpiji 3 kilogram diberlakukan tahun ini, sudah pasti akan memberatkan masyarakat. "Kalau sekarang ini kan tidak pas. Mana listrik naik, air naik. Masak elpiji juga mau dinaikkan," sesalnya. Pada kondisi dua item itu naik, yakni listrik dan PDAM masyarakat sudah berteriak. Apalagi akan ditambah dengan kenaikan elpiji.

Kenaikan elpiji 3 kilogram itu dipastikan bakal menimbulkan dampak ikutan. Seperti naiknya harga barang-barang lainnya. Apalagi, elpiji merupakan kebutuhan mendasar masyarakat. "Bagi pedagang-pedagang itu, bagaimanapun jenis makanan yang dijual, akan naik semua," ucapnya. Untuk itu dia berharap kenaikan elpiji 3 kilogram, melainkan paling cepat bulan depan. Karena, sambung anggota dewan dari dapil Mataram - Sekarbela ini, bagi masyarakat kenaikan elpiji ini terlalu mendadak.

Itupun, pemerintah harus betul-betul selektif ketika akan memberlakukan kebijakan itu. Karena, tidak semua masyarakat di NTB umumnya dan Mataram khususnya tergolong kaya. "Masih banyak sebenarnya warga miskin di lingkungan-lingkungan," sebutnya. Noer Ibrahim juga mengingatkan perlunya sosialisasi terkait kriteria masyarakat yang boleh membeli dengan harga Rp 15 ribu. Terhadap rencana pencabutan subsidi ini, Komisi II berencana memanggil pihak Depo Pertamina Ampenan.

Disamping itu, Noer Ibrahim meminta kepada Pemprov NTB untuk mensosialisasikan rencana pencabutan subsidi elpiji 3 kilogram itu kepada pemerintah daerah di kabupaten/kota. Termasuk DPRD Kota Mataram. "Karena kami juga punya masyarakat yang perlu kami beritahukan," tutupnya. (fit)


Foto: HM. Noer Ibrahim (Suara NTB/dok)

Komentar